Krusial | Banda Aceh — Perubahan iklim global sudah dirasakan dampaknya oleh masyarakat Aceh selama dua dekade terakhir. Selain kenaikan suhu udara yang signifikan, wilayah ini kini juga menghadapi bencana hidrometeorologis ekstrem seperti hujan es dan angin puting beliung yang memiliki daya rusak besar.

Hal ini disampaikan oleh Dr. Yopi Ilhamsyah, Dosen Fakultas Kesehatan Publik Universitas Syiah Kuala (USK) sekaligus Peneliti Sains Atmosfer Pusat Riset STEM USK, dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Kamis (15/5/2025).

Menurut Dr. Yopi, hujan es yang baru-baru ini terjadi di Kabupaten Aceh Tengah merupakan fenomena langka yang belum pernah terdengar sebelumnya di daerah itu. Meskipun durasinya singkat, hujan es tersebut telah merusak tanaman dan properti masyarakat.

“Walau hanya berlangsung beberapa detik, hujan es dapat menyebabkan kerusakan besar, mulai dari tanaman kebun hingga cedera akibat benturan batu es,” ujar Dr. Yopi.

Selain itu, bencana angin puting beliung yang terjadi beberapa waktu lalu juga menimbulkan kerugian materi yang cukup besar. Meski kejadian tersebut berlangsung sekitar 10 menit, dampaknya sangat masif dan merusak ratusan rumah serta fasilitas umum.

Dr. Yopi menambahkan bahwa kondisi iklim saat ini sangat dipengaruhi oleh fenomena tekanan rendah yang berkorelasi dengan suhu udara yang tinggi. Tekanan rendah ini menyebabkan hujan lebat disertai angin kencang yang sering kali melanda wilayah Aceh.

“Perubahan iklim sudah kita alami selama 20 tahun terakhir, dengan suhu tinggi yang menyebabkan tekanan rendah, lalu memicu hujan deras dan angin kencang,” jelasnya.

Menurutnya, pelestarian pepohonan perlu dilakukan sebagai salah satu upaya mitigasi. Namun sayangnya, banyak pohon tinggi yang dulu berfungsi mereduksi energi angin kini banyak ditebang karena dianggap mengganggu kelancaran lalu lintas.

“Pohon besar yang berfungsi sebagai pelindung lingkungan kini banyak yang hilang, sehingga angin kencang lebih mudah merusak. Padahal, pohon-pohon itu sangat penting untuk menstabilkan tekanan udara dan mengurangi dampak angin,” ujarnya.

Dr. Yopi juga mengingatkan bahwa perubahan iklim berbeda dengan bencana seperti tsunami yang memiliki momen peringatan dan simulasi rutin. “Perubahan iklim ini terjadi secara perlahan namun berkelanjutan, sehingga kesadaran masyarakat terhadap fenomena ini perlu ditingkatkan melalui edukasi dan simulasi bencana hidrometeorologis,” pungkasnya.***