Krusial.com — Bertahan hidup selama 26 hari di tengah lautan membuat Esau Sidemo, nelayan asal Desa Bido, Ternate, harus menghadapi kondisi ekstrem. Saat persediaan air dan makanan hampir tidak ada, pria 57 tahun itu mengaku sempat meminum air laut dan urinenya sendiri.
Esau terombang-ambing di laut setelah mesin perahunya mati saat melaut pada 7 Juli. Perahunya kemudian terbawa hingga sekitar 800 mil ke arah Samudra Pasifik.
Dalam kondisi tersebut, Esau hanya membawa sekitar satu liter air mineral tanpa persediaan makanan. Untuk bertahan hidup, ia memakan kelapa yang hanyut, ikan dan burung, serta memanfaatkan air hujan.
Pengalaman Esau kemudian memunculkan pertanyaan: apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika seseorang meminum urinenya sendiri saat kehausan?
Secara umum, urine memang didominasi air. Namun, cairan tersebut juga membawa berbagai zat sisa metabolisme yang dikeluarkan tubuh melalui ginjal.
Melansir Poison Control, Sabtu (26/9/2026), urine manusia terdiri dari sekitar 95 persen air. Sisanya antara lain mengandung urea, kreatinin, elektrolit dan senyawa lain. Ginjal menyaring darah untuk mempertahankan zat yang masih dibutuhkan tubuh sekaligus membuang kelebihan cairan dan produk sisa metabolisme melalui urine.
Masalahnya, ketika seseorang mengalami dehidrasi, urine cenderung menjadi semakin pekat karena tubuh berusaha menghemat air. Jika urine tersebut kembali diminum, tubuh memang memperoleh sejumlah cairan, tetapi juga menerima kembali zat-zat yang sebelumnya sedang dikeluarkan oleh ginjal.
Kondisi itu dapat menjadi masalah apabila konsumsi urine dilakukan berulang kali dalam keadaan kekurangan air. Beban zat terlarut, termasuk urea, dapat berkontribusi terhadap osmotic diuresis, yaitu kondisi ketika zat terlarut mendorong pengeluaran lebih banyak air melalui urine.
Hal tersebut pernah dilaporkan dalam sebuah kasus medis. Studi yang diterbitkan di Frontiers in Medicine pada 2022 mencatat seorang pria berusia 40 tahun yang meminum urinenya sendiri selama lima hari karena tidak memiliki akses terhadap makanan dan air.
Pasien tersebut mengalami dehidrasi berat, hipernatremia atau kadar natrium darah yang sangat tinggi, serta cedera ginjal akut. Peneliti menyebut tingginya kadar urea setelah konsumsi urine diduga ikut memicu diuresis osmotik dan memperburuk kehilangan air tubuh.
Hal serupa juga menjelaskan mengapa air laut bukan solusi untuk mengatasi kehausan ketika terdampar. Kandungan garam yang tinggi membuat tubuh harus mengeluarkan air untuk membuang kelebihan garam tersebut. Dalam kondisi dehidrasi, hal ini justru dapat memperburuk kehilangan cairan.
Lantas, apakah meminum urine dalam jumlah sedikit langsung menyebabkan keracunan?
Tidak selalu. Poison Control menyebut konsumsi urine dalam jumlah kecil, misalnya tidak sengaja, umumnya tidak menyebabkan masalah serius. Namun, urine tetap tidak dianjurkan untuk diminum karena mengandung produk sisa metabolisme dan dapat mengandung bakteri.
Karena itu, tidak ada angka pasti mengenai berapa lama seseorang dapat bertahan hidup hanya dengan meminum urine. Kemampuan bertahan hidup sangat bergantung pada kondisi tubuh, suhu lingkungan, aktivitas fisik, jumlah cairan yang hilang, serta ada tidaknya sumber air lain.
Kisah Esau menunjukkan betapa ekstremnya kondisi yang dapat dihadapi seseorang ketika terjebak tanpa akses terhadap air dan makanan. Namun dari sisi medis, urine bukanlah pengganti air minum yang aman, terlebih ketika tubuh sudah mengalami dehidrasi. ***
Tinggalkan Balasan