Krusial.com — Telur dapat menjadi sumber protein untuk mendukung pertumbuhan bayi. Namun, orang tua perlu memastikan telur dimasak hingga matang sebelum diberikan sebagai makanan pendamping ASI (MPASI), karena telur mentah atau setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella penyebab infeksi saluran cerna.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan bahwa infeksi Salmonella atau salmonelosis dapat menimbulkan diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi. Risiko tersebut perlu mendapat perhatian khusus pada bayi dan anak kecil karena infeksi dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

“Telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella yang menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis,” ujar Piprim dalam keterangan tertulis IDAI yang diperoleh Krusial, Rabu (14/10/2026).

Menurut Piprim, telur mentah atau setengah matang tidak memberikan keuntungan gizi yang sebanding dengan risiko yang ditimbulkan. Sebaliknya, telur yang dimasak hingga matang dapat menjadi sumber protein berkualitas tinggi dan sejumlah zat gizi penting bagi pertumbuhan anak.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan cara pengolahan sekaligus kebersihan makanan yang diberikan kepada bayi.

MPASI Umumnya Dimulai pada Usia Enam Bulan

Selain keamanan makanan, waktu pemberian MPASI juga perlu disesuaikan dengan usia dan kesiapan bayi.

IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar bayi mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Setelah itu, pemberian ASI dilanjutkan bersama MPASI hingga anak berusia dua tahun atau lebih.

Pada usia sekitar enam bulan, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui jumlah yang dapat dipenuhi hanya melalui ASI. MPASI diperlukan untuk melengkapi kebutuhan tersebut seiring pertumbuhan anak.

Piprim menegaskan bahwa pemberian MPASI sebelum bayi berusia empat bulan tidak dianjurkan. Adapun pemberian MPASI sejak usia empat bulan bukan rekomendasi rutin dan hanya dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu berdasarkan penilaian dokter.

Keputusan tersebut perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, serta kemampuan bayi menerima dan menelan makanan.

Kenali Tanda Bayi Siap Menerima MPASI

Kesiapan menerima MPASI tidak cukup dinilai berdasarkan usia. Orang tua juga perlu memperhatikan perkembangan kemampuan fisik dan koordinasi makan bayi.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain kemampuan mempertahankan posisi kepala dan leher dengan stabil, duduk dengan bantuan, serta mengoordinasikan gerakan mulut untuk menerima dan menelan makanan.

Tanda-tanda tersebut harus dinilai secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan satu kemampuan. Jika masih ragu menentukan waktu pemberian MPASI atau jenis makanan yang sesuai, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter.

Dengan memperhatikan keamanan pengolahan makanan, kecukupan gizi, dan kesiapan bayi, telur matang dapat menjadi salah satu pilihan MPASI untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi selama masa pertumbuhan. ***