Krusial.com – Sejauh 1.150 kilometer bukan sekadar angka bagi empat pemuda asal Aceh. Jarak tersebut menjadi perjalanan panjang untuk membaca kembali sejarah, menyapa alam, mengenal budaya, sekaligus merekam kehidupan masyarakat dari berbagai sudut Tanah Rencong.

Perjalanan itu terangkum dalam Aceh Overland Expedition 360° Series 1, sebuah ekspedisi yang mengusung tema “Tour • Explore • Culture • Share” dan berlangsung selama delapan hari, 17–24 Juli 2026.

Empat pemuda yang terlibat dalam ekspedisi tersebut yakni Muhammad Al Khalifi, M. Zahid Alfaqih, Muallim Stany, dan Arga ET.

Dengan sepeda motor sebagai moda utama, mereka memulai perjalanan dari Banda Aceh, menyusuri pesisir utara Aceh, memasuki dataran tinggi Gayo, kemudian melintasi kawasan barat hingga selatan Aceh sebelum kembali ke titik awal.

Namun, ekspedisi tersebut bukan sekadar perjalanan menikmati jalanan dan destinasi wisata.

Setiap kilometer memiliki cerita. Setiap persinggahan menyimpan sejarah. Dan setiap tempat yang dikunjungi menjadi ruang belajar untuk memahami Aceh dari perspektif yang lebih luas.

Merawat Ingatan di Rumoh Geudong

Perjalanan dimulai dari Banda Aceh dengan menyusuri jalur pesisir menuju Laweung, Kabupaten Pidie.

Di tengah perjalanan, tim singgah di Rumoh Geudong, salah satu situs yang memiliki catatan penting dalam sejarah konflik Aceh.

Rumoh Geudong merupakan lokasi yang dikaitkan dengan berbagai peristiwa kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia pada masa konflik Aceh. Kini, kawasan tersebut dibangun sebagai Monumen Rumoh Geudong yang menjadi bagian dari upaya merawat ingatan terhadap sejarah kelam masa lalu.

Bagi tim Aceh Overland Expedition 360°, kunjungan tersebut bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi bentuk penghormatan terhadap sejarah sekaligus pengingat agar tragedi kemanusiaan tidak kembali terulang.

Dari Pidie, perjalanan berlanjut melewati hamparan persawahan Pidie Jaya hingga Kabupaten Bireuen.

Menantang Arus Krueng Peusangan

Di Bireuen, ekspedisi mengambil jeda dari perjalanan darat dan mencoba tantangan berbeda dengan melakukan arung jeram di Krueng Peusangan.

Didampingi rekan-rekan Mapala Alaska, Faji Bireuen, serta sejumlah pegiat alam lainnya, tim menyusuri derasnya arus sungai yang berhulu dari kawasan Danau Laut Tawar, Aceh Tengah.

Jeram yang menantang berpadu dengan panorama hutan tropis di sepanjang aliran sungai. Selain menghadirkan pengalaman petualangan, perjalanan tersebut juga memperkenalkan Krueng Peusangan sebagai salah satu kekayaan alam Aceh yang memiliki nilai ekologis sekaligus potensi wisata.

Radio Rimba Raya dan Sejarah yang Menggema

Dari Bireuen, perjalanan berlanjut menuju Kabupaten Bener Meriah.

Salah satu titik penting yang dikunjungi adalah Monumen Radio Rimba Raya.

Tempat tersebut mengingatkan kembali pada peran Radio Rimba Raya dalam sejarah perjuangan mempertahankan eksistensi Republik Indonesia setelah Agresi Militer Belanda II pada 1948.

Ketika Belanda berupaya membangun narasi bahwa Republik Indonesia telah runtuh, siaran dari pedalaman Aceh turut menyampaikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada dan perjuangan belum berakhir.

Bagi tim ekspedisi, Radio Rimba Raya menjadi salah satu bukti bahwa Aceh memiliki kontribusi besar dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menikmati Kopi Gayo di Tanah Asalnya

Memasuki dataran tinggi Gayo, suasana perjalanan berubah.

Udara yang lebih sejuk dan lanskap pegunungan menjadi teman perjalanan sebelum tim menuju Takengon.

Mereka kemudian singgah di Seuladang Kopi untuk menikmati kopi Arabika Gayo sekaligus berbincang mengenai budaya kopi dan kehidupan masyarakat Gayo yang telah menjaga tradisi perkebunan kopi secara turun-temurun.

Perjalanan pun tidak hanya menjadi aktivitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga kesempatan untuk mengenal masyarakat dan produk lokal yang menjadi identitas daerah.

Bermalam di Tepi Danau Laut Tawar

Malam harinya, tim mendirikan tenda di tepian Danau Laut Tawar.

Udara dingin, suasana hening, serta pantulan langit malam di permukaan danau menciptakan pengalaman tersendiri.

Bagi mereka, Danau Laut Tawar bukan sekadar tempat berkemah, tetapi ruang untuk menikmati alam Aceh dalam suasana yang lebih dekat dan sederhana.

Menelusuri Jejak Manusia Purba di Loyang Mendale

Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan menuju Loyang Mendale, situs arkeologi penting di tepian Danau Laut Tawar.

Situs tersebut menjadi salah satu lokasi penting dalam penelitian mengenai jejak kehidupan manusia purba di kawasan Gayo.

Berbagai temuan arkeologis berupa kerangka manusia dan artefak seperti gerabah, periuk, serta peralatan batu menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah dihuni manusia sejak ribuan tahun lalu.

Bagi tim ekspedisi, Loyang Mendale membuka perspektif bahwa Aceh bukan hanya kaya akan sejarah perjuangan modern, tetapi juga memiliki jejak peradaban manusia yang jauh lebih tua.

Menembus Jalur Pegunungan Singgah Mata

Dari dataran tinggi Gayo, perjalanan berlanjut menuju Aceh Barat melalui jalur tengah.

Tim melintasi kawasan Gunung Singgah Mata di perbatasan Aceh Tengah dan Nagan Raya.

Jalur yang membelah kawasan pegunungan Bukit Barisan tersebut menawarkan pemandangan spektakuler berupa kabut, lembah, pegunungan, hingga hamparan awan.

Namun, keindahan itu datang bersama tantangan. Sejumlah tanjakan, tikungan tajam, serta kondisi jalan di kawasan pegunungan membuat perjalanan membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian.

Bagi tim, jalur Singgah Mata menjadi salah satu bagian perjalanan yang paling menantang sekaligus berkesan.

Ziarah ke Makam Ulama di Beutong Ateuh

Perjalanan kemudian membawa mereka ke Beutong Ateuh Banggalang.

Di kawasan tersebut, tim berziarah ke makam Teungku Chik Ibrahim, tokoh ulama yang dihormati masyarakat setempat.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk mengenal sejarah perkembangan Islam dan kehidupan masyarakat di kawasan pedalaman Aceh.

Mengenang Teuku Umar di Meulaboh

Dari Beutong Ateuh, perjalanan berlanjut menuju Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.

Sebagai salah satu kota yang memiliki hubungan erat dengan sejarah perjuangan Aceh, Meulaboh menjadi tempat tim mengunjungi Tugu Teuku Umar.

Teuku Umar Johan Pahlawan merupakan salah satu tokoh penting dalam perjuangan rakyat Aceh melawan kolonial Belanda. Strategi perang dan keberaniannya membuat namanya terus dikenang sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia.

Di Meulaboh, tim juga menikmati budaya ngopi khas pantai barat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Menyusuri Pesisir Barat Aceh hingga Menikmati Durian

Perjalanan berikutnya membawa tim menyusuri jalur pesisir barat Aceh.

Bentangan laut lepas, pantai, serta perbukitan hijau menjadi pemandangan yang menemani perjalanan.

Tim kemudian singgah di Camp Durian, Desa Lamseunia, Leupung, Aceh Besar, di kebun milik Bang Suhaimy.

Berada di tengah musim durian, mereka menikmati pengalaman sederhana namun berkesan: menyantap buah yang baru saja jatuh dari pohonnya.

Malam itu menjadi salah satu ruang kebersamaan sebelum perjalanan memasuki hari terakhir.

Sebelum kembali ke Banda Aceh, tim juga menyempatkan diri singgah dan berkemah di Lhok Gaca, salah satu kawasan yang tengah menarik perhatian karena panorama pantainya yang masih alami.

Lebih dari Sekadar Touring

Delapan hari perjalanan dan 1.150 kilometer yang ditempuh membuat Aceh Overland Expedition 360° Series 1 menjadi lebih dari sekadar touring.

Ekspedisi tersebut menjadi perjalanan untuk belajar.

Tim menyusuri situs sejarah, menikmati bentang alam, mengenal budaya masyarakat, berdialog dengan pegiat alam, mengunjungi destinasi wisata, hingga mendokumentasikan kondisi sejumlah wilayah Aceh pascabencana banjir.

Dari pesisir hingga pegunungan, perjalanan itu memperlihatkan bahwa Aceh memiliki kekayaan yang jauh lebih luas daripada sekadar destinasi wisata.

Ada sejarah perjuangan yang harus dirawat, jejak peradaban yang perlu dikenalkan, budaya yang harus dijaga, alam yang harus dilestarikan, serta masyarakat yang menjadi bagian penting dari cerita panjang Tanah Rencong.

Melalui semangat “Tour • Explore • Culture • Share”, Aceh Overland Expedition 360° diharapkan tidak berhenti pada Series 1.

Ekspedisi ini dapat menjadi gerakan dokumentasi perjalanan yang memperkenalkan Aceh dari berbagai sudut pandang—bukan hanya sebagai tempat untuk dikunjungi, tetapi sebagai tanah yang memiliki sejarah, budaya, alam, dan nilai kemanusiaan yang layak diceritakan kepada Indonesia bahkan dunia.

Di akhir perjalanan, tim menyampaikan apresiasi kepada seluruh sponsor, tim pendukung, para pegiat alam, serta masyarakat yang telah menyambut mereka dengan ramah di setiap daerah yang disinggahi.

“Terima kasih kepada seluruh sponsor, tim pendukung, serta masyarakat yang telah menyambut kami dengan ramah di mana pun kami berhenti. Dukungan dan keramahan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan ini,” ujar tim Aceh Overland Expedition 360°.***