Krusial.com- Bunga sakura yang mekar di Jepang, ternyata tidak hanya soal keindahannya saja. Namun, masyarakat Jepang memiliki bentuk perayaan yang unik dalam menyambutnya. Salah satunya dengan tradisi hanami yang sudah sejak lama ada.
Jadi, kalau kamu pergi liburan ke Jepang jangan heran kalau banyak sekali warga lokal yang melakukan hanami. Hal ini karena tradisi tersebut memiliki peranan yang sangat penting bagi mereka. Untuk menjawab rasa penasaran kamu, yuk simak penjelasan pada artikel berikut ini!
Mengenal Hanami
Hanami sendiri berasal dari kata hana (花) yang berarti bunga dan mi (見) yang bermakna melihat. Jadi, secara harfiah hanami mempunyai arti melihat bunga. Bagi masyarakat Jepang, hanami bukan hanya sekedar menikmati keindahan alam saja melainkan menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul bersama rekan kerja, teman, maupun keluarga.
Ketika musim semi tiba, bunga sakura akan bermekaran dengan indahnya. Saat itu pula, seluruh taman-taman di Jepang akan penuh dengan tawa kebersamaan, tikar biru, dan makanan khas. Hanami menjadi sebuah momen penting dan berharga untuk jeda sejenak dari rutinitas harian dan menikmati keindahan yang hadir dengan waktu yang singkat.
Selain itu, baik warga lokal maupun wisatawan juga bisa mencoba aneka hidangan berupa makanan dan minuman khas musim semi saat hanami. Mulai dari cemilan dengan tema bunga sakura, minuman dengan cita rasa sakura, bentou, dango, dan sakura mochi. Sehingga, semakin menambah daya tarik dan keunikan dari tradisi hanami.
Asal-Usul Tradisi Hanami
Berdasarkan sejarahnya, tradisi ini mendapat pengaruh dari budaya Tiongkok. Saat itu, para bangsawan sangat suka menikmati keindahan bunga plum (ume) yang sedang mekar. Hal ini telah menjadi bagian dari kegiatan seni maupun sastra.
Lalu, para aristokrat Jepang terinspirasi dengan kebiasaan tersebut dan mulai mengadakan kegiatan tertentu untuk menyaksikan bunga plum yang bermekaran dengan indah. Kemudian, pada periode Heian (794-1185), perhatian masyarakat Jepang mulai teralihkan pada bunga sakura yang indah.
Awalnya, perayaan hanami hanya berlangsung untuk kalangan bangsawan Jepang saja. Seperti menulis puisi, mengadakan jamuan makan, dan melihat indahnya pemandangan bunga sakura yang mekar. Namun, seiring berjalannya waktu tradisi ini berubah menjadi budaya Jepang yang populer dan bisa dinikmati oleh siapa saja.
Bagaimana Etika Saat Hanami Berlangsung?
Orang Jepang sangat menjunjung tinggi kebersihan dan kenyamanan area publik. Maka dari itu, perlu bagi kamu untuk mengetahui beberapa etikanya antara lain sebagai berikut ini.
- Menjaga kebersihan area publik dengan cara membuang sampah pada tempat sampah atau membawa pulang sampah.
- Tidak merusak maupun memetik bunga atau pohon sakura.
- Menghormati pengunjung lainnya.
- Menghindari suara yang terlalu keras agar semua orang yang berkunjung bisa menikmati suasana bunga sakura yang bermekaran secara nyaman.
- Menggunakan alas piknik secukupnya saja agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung lainnya.
Etika tersebut sangat mencerminkan nilai dari budaya Jepang yaitu Omoiyari (思いやり) yaitu sikap yang saling peduli terhadap sesama. Selain itu, juga menjadi simbol dari menjunjung tinggi rasa hormat terhadap sesama dan alam.
Filosofi Bunga Sakura Pada Budaya Jepang
Dalam budaya Jepang, bunga sakura sendiri melambangkan keindahan yang sifatnya sementara. Hal ini karena bunga sakura sendiri hanya mekar dalam waktu yang singkat yaitu sekitar 1-2 minggu. Setelahnya, bunga sakura akan gugur dalam waktu yang cepat.
Nah, bunga sakura memiliki filosofi tersendiri yang dikenal dengan mono no awareness ( 物の哀れ). Artinya, kesadaran bahwa segala sesuatu tidak bersifat abadi. Sakura juga menjadi simbol dari harapan, kehidupan, dan perpisahan yang indah.
Melalui tradisi hanami, masyarakat Jepang bisa menerima perubahan dalam hidup, menghargai momen saat ini, hingga menikmati keindahan tanpa harus memilikinya.
Tradisi Hanami di Era Modern
Pada era Modern ini hanami tak hanya berperan sebagai tradisi budaya saja. Namun, hanami berfungsi sebagai daya tarik untuk mengundang wisatawan mancanegara datang ke Jepang. Bahkan, menjadi konten media sosial yang menarik.
Walaupun zaman telah berubah, namun sejatinya esensi dari hanami ini tetaplah sama. Bagi siapapun yang ingin menikmatinya, tetap bisa merasakan momen kebersamaan dan keindahan alam.

Tinggalkan Balasan