Krusial.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat meminta seluruh unsur penanggulangan bencana meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan ekstrem.

Imbauan tersebut disampaikan Plt Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, menyusul kondisi sebaran hotspot di sejumlah wilayah Indonesia berdasarkan peta Sistem Monitoring Karhutla (Sipongi) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per 21 Agustus 2026.

Ronald menyebut kondisi Aceh Barat yang masih relatif aman dari ancaman tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat kesiapan menghadapi kemungkinan perubahan cuaca ekstrem.

Menurutnya, kesiapsiagaan perlu dilakukan sebelum munculnya kejadian, terutama dengan meningkatkan pemantauan wilayah rawan gambut dan lahan kering serta memperkuat patroli titik panas (hotspot).

“Pencegahan dini adalah kunci utama. Kondisi Aceh Barat yang relatif aman hari ini menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” kata Ronald kepada Krusial, Sabtu (22/8/2026).

Ia juga meminta seluruh unsur memastikan peralatan penanggulangan karhutla dalam kondisi siap digunakan, termasuk mesin pompa air, selang dan kendaraan operasional.

Selain kesiapan peralatan, koordinasi lintas sektor juga dinilai penting. BPBD mendorong penguatan sinergi antara TNI, Polri, BMKG, KPH Wilayah IV, pemerintah kecamatan dan gampong, UKM PK-UTU, Masyarakat Peduli Api, REDKAR serta media massa.

Ronald juga mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan tidak melakukan pembakaran lahan, meski dalam skala kecil, serta menggunakan sumber air secara bijak untuk mengantisipasi kekeringan.

“Setiap patroli, penyebaran imbauan dan kesiapan teknis yang kita lakukan merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga keselamatan masyarakat Aceh Barat,” katanya. ***