Krusial.com — Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan kembali menghadirkan edukasi publik melalui program Podcast Kito – Sahabat Zakat yang tayang di YouTube pada Selasa (5/5/2026) pukul 20.00 WIB.
Mengangkat tema “Zakat Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Peradaban”, episode tersebut menghadirkan ulama asal Aceh Selatan, Tgk. Muhibbut Thibri, anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh utusan Aceh Selatan. Diskusi dipandu oleh Tgk. Sairul Bahri, S.Pd.I.
Dalam pembukaannya, host menegaskan bahwa zakat tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai cahaya peradaban yang mampu mengangkat derajat umat dan membangun kesejahteraan bersama.
“Zakat adalah tentang kepedulian, keadilan, dan harapan bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Tgk. Sairul Bahri saat membuka diskusi.
Menanggapi hal tersebut, Tgk. Muhibbut Thibri menjelaskan bahwa zakat memiliki dimensi yang luas, mencakup aspek spiritual, sosial, hingga ekonomi.
“Zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi ibadah yang menyentuh jiwa dan kehidupan umat secara menyeluruh. Di dalam harta kita ada hak orang lain yang harus ditunaikan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, zakat merupakan instrumen penting dalam membangun sistem kehidupan yang adil. Dalam sejarah Islam, pengelolaan zakat yang optimal dinilai mampu mengurangi bahkan menghapus kemiskinan.
“Zakat adalah fondasi peradaban. Ketika zakat berjalan dengan baik, maka akan tercipta masyarakat yang saling peduli dan jauh dari kesenjangan sosial,” jelasnya.
Dalam diskusi tersebut, peran ulama juga menjadi sorotan. Ulama dinilai memiliki tanggung jawab strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui dakwah, pendidikan, serta penguatan kepercayaan terhadap lembaga zakat.
Dengan pendekatan yang tepat, pesan zakat diyakini mampu menyentuh hati masyarakat dan mendorong umat menunaikan zakat secara sadar dan ikhlas.
Selain itu, Tgk. Muhibbut Thibri turut menjelaskan hubungan erat antara zakat dan infak. Menurutnya, zakat merupakan kewajiban yang menjadi fondasi, sedangkan infak adalah bentuk keikhlasan yang menyempurnakan kepedulian sosial.
“Keduanya harus berjalan beriringan untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui tantangan dalam pengelolaan zakat masih cukup besar, terutama dalam membangun kesadaran dan kepercayaan publik. Karena itu, lembaga zakat dituntut terus meningkatkan transparansi, profesionalisme, dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana umat.
Dalam pesannya, Tgk. Muhibbut Thibri mengajak masyarakat agar tidak menunda kewajiban zakat.
“Menunda zakat sama dengan menahan hak saudara kita. Zakat tidak akan mengurangi harta, justru menghadirkan keberkahan,” tegasnya.
Ia berharap zakat di Aceh Selatan dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik dan kesadaran yang tinggi, zakat diyakini mampu menjadi solusi berbagai persoalan sosial sekaligus membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Menutup perbincangan, host kembali mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga amanah zakat.
“Setiap rupiah yang kita tunaikan adalah langkah menuju masyarakat yang lebih peduli dan berkeadilan. Zakat bukan hanya memberi, tetapi menghidupkan masa depan,” tutupnya.
Program Podcast Kito – Sahabat Zakat menjadi salah satu upaya Baitul Mal Aceh Selatan dalam meningkatkan literasi zakat, memperkuat kepercayaan publik, serta mengajak masyarakat menebarkan keberkahan melalui zakat dan infak.***
Tinggalkan Balasan