Krusial.com — Forum Konservasi Leuser (FKL) bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh resmi mengoperasikan Stasiun Penelitian Sarah Baru di Desa Alue Kejruen, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, pada Kamis (12/2/2026).
Untuk mencapai stasiun yang terletak jauh di dalam kawasan hutan ini, para peneliti dan pengunjung harus menempuh perjalanan air selama kurang lebih satu setengah jam menggunakan perahu mesin atau robin. Jalur sungai menjadi satu-satunya akses utama menuju titik riset yang dikelilingi vegetasi hutan hujan tropis tersebut.
Stasiun Sarah Baru merupakan fasilitas riset keempat yang dibangun atas kolaborasi FKL dan DLHK Aceh. Kehadirannya melengkapi jaringan stasiun penelitian yang sudah ada sebelumnya, yakni Stasiun Ketambe di Aceh Tenggara, Stasiun Soraya di Subulussalam, dan Stasiun Samar Kilang di Bener Meriah.
Direktur FKL, Muhammad Isa, dalam peresmian tersebut menegaskan bahwa stasiun ini dibangun dengan semangat inklusivitas. Meskipun fungsi utamanya adalah sebagai basis data ilmiah, ia menjamin fasilitas tersebut bisa diakses oleh masyarakat luas untuk berbagai kepentingan positif.
“Stasiun Penelitian Sarah Baru ini bersifat inklusif. Selain menjadi basis riset, fasilitas ini terbuka bagi masyarakat umum untuk berbagai kegiatan. Ini milik kita bersama, jadi mari kita jaga bersama. Masyarakat silakan memanfaatkan tempat ini untuk acara atau sekadar menginap,” kata Isa.
Ia juga menambahkan bahwa FKL sangat terbuka terhadap segala bentuk masukan dan saran demi pengembangan stasiun ini ke arah yang lebih baik di masa depan.
Koordinator Research Edukasi Database (RED) FKL, Ibnu Hasyem, memaparkan bahwa kawasan Menggamat telah menjadi fokus FKL sejak tahun 2017. Berdasarkan pantauan lapangan, wilayah ini memiliki kekayaan flora dan fauna yang luar biasa, bahkan menjadi habitat bagi empat spesies kunci yang kini mulai langka.
“Data kami menunjukkan kawasan ini masih sangat bagus. Empat spesies kunci Harimau sumatera, Gajah sumatera, Badak sumatera, dan Orangutan sumatera masih terindikasi kuat berada di sini. Selain itu, kawasan ini adalah hulu penting bagi Sungai Menggamat yang menjadi sumber air utama bagi warga di Kluet,” jelas Ibnu.
Terkait operasional, Ibnu menekankan pentingnya keterlibatan warga lokal. Saat ini, stasiun tersebut telah mempekerjakan empat staf, di mana dua di antaranya merupakan pemuda asli setempat.
Ia berharap di masa depan, manajemen stasiun ini bisa sepenuhnya dikelola oleh putra daerah, sebagaimana keberhasilan yang terjadi di Stasiun Penelitian Ketambe yang dikelola secara mandiri oleh pemuda asli daerah sejak tahun 1987.
Sementara itu, Kepala KPH Wilayah IX Aceh, Irwandi, menyambut baik berdirinya stasiun riset ini sebagai pendukung sektor kehutanan. Ia menyatakan bahwa setiap penelitian yang dilakukan di Sarah Baru akan menjadi rujukan penting bagi pengambilan kebijakan pengawasan hutan.
“Setiap peneliti wajib mengikuti prosedur SOP, mendapatkan rekomendasi dari KPH atau Dinas LHK Aceh, serta wajib didampingi petugas selama di lapangan. Hal ini demi keamanan peneliti itu sendiri dan memastikan aturan tetap terjaga,” tegas Irwandi.
Irwandi menekankan bahwa laporan hasil riset nantinya harus diserahkan kepada pemerintah sebagai bahan evaluasi lapangan.
“Output dari riset ini penting. Jika ada temuan masalah pada satwa atau kawasan melalui hasil riset, kita jadi tahu langkah penyelamatan apa yang harus diambil secara saintifik,” pungkasnya.
Peresmian Stasiun Penelitian Sarah Baru ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara akademisi, praktisi konservasi, pemerintah, dan masyarakat lokal dalam menjaga keberlangsungan Ekosistem Leuser sebagai warisan dunia di tanah Aceh.***
Tinggalkan Balasan