Krusial.cok — Di tengah hiruk-pikuk tudingan publik yang kian ramai di Aceh Selatan, tokoh pemuda Al-Rijal mengingatkan relevansi ungkapan lama: “Kalau ingin menyikat noda di pakaian orang lain, pastikan dulu baju kita sendiri tidak penuh lumpur.” Pesan ini dinilai masih pas menggambarkan dinamika wacana terkini.

Al-Rijal menyinggung situasi mirip “maling teriak maling”, bukan untuk nuduh pihak tertentu, melainkan pengingat etika kritik. “Tidak jarang, suara yang paling keras justru bukan berasal dari pihak yang paling bersih,” ujarnya saat dimintai pandangan, Jumat (2/1/2026).

Menurutnya, kritik esensial dalam demokrasi, tapi harus objektif dan disertai keteladanan. “Ungkapan maling teriak maling hidup di tengah masyarakat karena berangkat dari pengalaman panjang rakyat. Mereka melihat, ada yang gemar menunjuk ke luar, tetapi enggan menoleh ke dalam,” tambahnya.

Al-Rijal menekankan perlunya kejernihan sikap daripada adu suara atau perang narasi. Masyarakat Aceh Selatan, katanya, kini semakin dewasa membedakan kritik tulus dan retorika semata.

“Bersih itu bukan soal siapa yang paling lantang berbicara, tetapi siapa yang berani bercermin, mengakui kekurangan, dan memperbaiki diri. Biarlah publik yang menilai dengan tenang,” pungkasnya, menggarisbawahi pentingnya adab dalam perdebatan publik.***