Krusial.com — Di tengah hiruk-pikuk perdebatan publik yang kian riuh, H. Mirwan MS, SE, M.Sos, bersama istrinya Nafisah Mirwan, memilih keheningan untuk mengenang tragedi Tsunami Aceh 21 tahun silam, 26 Desember 2004. Peringatan ini, yang jatuh pada 26 Desember 2025, menjadi momen bagi keduanya untuk mengajak masyarakat Aceh Selatan merenung dan mendinginkan hati dari kegaduhan saat ini.

Bagi H. Mirwan, tsunami bukan sekadar bencana alam, melainkan pelajaran batin yang menyatukan Aceh dalam duka mendalam. “Pernah ada masa ketika Aceh benar-benar kehilangan segalanya. Saat itu, kita tidak sempat saling menyalahkan karena duka yang Allah hadirkan terlalu dalam untuk diucapkan, apalagi diperdebatkan,” ungkapnya lirih melalui pesan WhatsApp kepada awak media 86News.co.
Ia menambahkan, “Yang tersisa hanya air mata, doa yang tak putus, dan keikhlasan yang lahir dari hati paling dalam. Saya sangat merindukan suasana itu—saat hati berbicara lebih dulu daripada ego, dan kita saling menguatkan sebagai satu saudara.”
Didampingi Nafisah Mirwan, H. Mirwan mengajak warga Aceh Selatan menjadikan peringatan ini sebagai ruang pendinginan hati. Sejarah tsunami, katanya, mengajarkan bahwa kemarahan tak pernah membangun, sementara empati, kesabaran, dan saling memaafkan justru menyelamatkan Aceh kala itu.
“Jika hari ini ada perbedaan pandangan, biarlah itu diselesaikan dengan hati yang teduh. Karena rakyat Aceh Selatan terlalu berharga untuk dikorbankan oleh riuh yang seharusnya bisa kita tenangkan bersama,” tegasnya.
H. Mirwan juga menegaskan bahwa kepemimpinan sejati diuji dalam kesabaran dan kepekaan terhadap luka batin rakyat. Ia mengajak masyarakat saling mendoakan, bukan menghakimi, serta mendoakan korban bencana di daerah lain. “Semoga Aceh Selatan selalu dijauhkan dari bencana, baik yang datang dari alam maupun dari kerasnya hati kita sendiri,” tutupnya.
Dalam refleksi ini, H. Mirwan menekankan pelajaran dari tsunami: kekuatan sejati bukan pada suara paling keras, melainkan pada hati yang terjaga.
Tinggalkan Balasan