Krusial.com — Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Aceh Utara terus menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak banjir bandang yang melanda wilayah tersebut sejak akhir November 2025. Bantuan meliputi paket sembako, layanan pengobatan darurat, serta distribusi air bersih di sejumlah kecamatan terdampak.

Sejak hari pertama bencana, PMI Kabupaten Aceh Utara langsung bergerak ke lokasi-lokasi terdampak, termasuk wilayah yang sempat terisolasi. Proses evakuasi warga dilakukan menggunakan perahu cepat (speed boat) untuk menjangkau daerah yang terendam banjir dan sulit diakses melalui jalur darat.

Ketua PMI Kabupaten Aceh Utara, H. Tantawi, S.IP., M.AP., menyampaikan bahwa pihaknya juga telah mendirikan Posko Tanggap Darurat Bencana Banjir yang berlokasi di Jalan Abdullah Tb. Cumboek, Gampong Mon Gudong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

“Posko tersebut menjadi pusat koordinasi evakuasi, pelayanan kesehatan darurat, serta distribusi bantuan bagi masyarakat terdampak,” kata Tantawi, Rabu (17/12/2025).

Bersama para relawan kemanusiaan, Tantawi turun langsung meninjau sejumlah titik banjir bandang di Aceh Utara. Dalam setiap kunjungan, PMI menyalurkan bantuan sembako, memberikan layanan pengobatan darurat, melakukan pembersihan tempat ibadah, serta mendistribusikan air bersih kepada warga yang membutuhkan.

Tantawi juga berharap pemerintah pusat menetapkan bencana banjir bandang yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatera sebagai bencana nasional.

“Penetapan status tersebut penting untuk mempercepat penanganan korban, pemulihan infrastruktur, serta membuka ruang bantuan kemanusiaan yang lebih luas, termasuk dukungan dari masyarakat internasional secara terkoordinasi, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, banjir bandang di Aceh Utara telah berkembang menjadi bencana besar yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Berdasarkan data sementara, jumlah korban meninggal dunia mencapai 163 orang, sementara enam orang lainnya masih dalam proses pencarian.

Selain itu, sebanyak 1.111 warga dilaporkan mengalami luka-luka, dan jumlah pengungsi mencapai 69.020 jiwa yang tersebar di 138 titik pengungsian di 25 kecamatan.

Tak hanya menelan korban jiwa, bencana ini juga mengakibatkan kerusakan signifikan terhadap rumah warga, fasilitas pendidikan, masjid, meunasah, serta lahan pertanian dan perikanan masyarakat.

Banjir bandang tersebut pertama kali terjadi pada 26 November 2025 dan hingga kini dampaknya masih dirasakan warga. ***