Krusial.com – Keluhan terhadap pemadaman listrik tanpa pola bergilir dan tanpa pemberitahuan terus disuarakan warga Aceh Barat. Masyarakat meminta PT PLN (Persero) segera menerapkan skema pemadaman terjadwal agar kebutuhan rumah tangga tetap dapat diatur di tengah krisis kelistrikan pascabencana yang melanda daerah tersebut.
Muhammadi, eks Ketua KNPI Aceh Barat, menegaskan bahwa masyarakat memahami sepenuhnya gangguan jaringan interkoneksi Aceh–Sumut akibat bencana besar yang melanda beberapa wilayah di Aceh. Namun, kondisi tersebut tidak bisa menjadi alasan bagi PLN untuk melakukan pemadaman sepihak tanpa pola dan tanpa pembagian yang adil bagi seluruh pelanggan.
“Yang dibutuhkan itu pemadaman bergilir yang adil. Pelanggan mengerti kondisi pascabencana, tapi jangan ada wilayah yang padam lebih lama tanpa alasan,” ujar Muhammadi, Rabu (3/12/2025).
Ia menyebutkan bahwa keluhan dan protes dari pelanggan semakin terlihat, baik dalam percakapan publik maupun cuitan melalui media sosial. Banyak masyarakat merasa suplai listrik tidak merata, bahkan ada daerah tertentu yang seolah kurang mendapat perhatian dibanding wilayah lain yang mengalami durasi pemadaman lebih singkat.
Menurut Madi, pemadaman listrik justru membuat warga semakin tertekan di tengah genangan lumpur yang belum sepenuhnya bersih. Kondisi gelap gulita pascabanjir, kata Madi, tentu memperparah beban psikologis serta menghambat aktivitas warga yang sedang memulihkan rumah dan lingkungan mereka.
Ia menilai, dalam situasi krisis seperti ini, listrik seharusnya tetap dioperasikan secara bergilir dan terjadwal agar masyarakat dapat bertahan dan memenuhi kebutuhan dasar selama masa darurat. Jadwal yang jelas, sangat penting agar warga bisa mengatur aktivitas harian dan proses pemulihan setelah banjir.
Madi pun turut menyayangkan kondisi pemadaman listrik yang menimpa wilayah pelosok seperti Kecamatan Pante Ceureumen, Sungai Mas, Woyla, Woyla Barat, Woyla Timur, dan sejumlah titik lain yang mengalami dampak banjir terparah.
Menurut Madi, masyarakat di kawasan tersebut harus menelan derita di tengah gelapnya malam, saat mereka justru membutuhkan dukungan kelistrikan untuk mempercepat pemulihan masa panik.
“Kita tahu banjir memengaruhi jaringan listrik, mungkin ada kerusakan. Tapi PLN tetap harus mencari alternatif agar listrik hidup walaupun bergiliran, tapi sekali lagi saya katakan harus terjadwal,” tegasnya.
Keluhan serupa juga datang dari Dewi Ratna Yusuf, warga Desa Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan. Ia mengungkapkan bahwa wilayahnya kerap mengalami pemadaman panjang, bahkan hingga dua hari dua malam, sedangkan beberapa desa lain hanya padam sehari.
“Di sini listrik bisa padam sampai dua hari dua malam. Tapi di beberapa desa lain hanya sehari. Kami seperti dianaktirikan,” keluhnya.
Sementara itu, PLN Meulaboh memberikan penjelasan singkat terkait kendali distribusi listrik. Edi, petugas Unit Layanan Pelanggan (ULP) Meulaboh Kota, mengatakan bahwa suplai dan pengaturan aliran listrik bukan berada di tingkat daerah.
“Suplai arus langsung dari tingkat provinsi di Banda Aceh, bukan di sini,” ujar Edi.
Di tengah situasi pascabencana, warga berharap PLN memberikan kejelasan jadwal pemadaman. Menurut mereka, pemberitahuan dini sangat penting untuk menyiapkan kebutuhan dasar seperti menampung air, mengolah bahan makanan, mencuci pakaian, dan berbagai aktivitas rumah tangga lainnya. ***
Tinggalkan Balasan