Krusial.com — Pemerintah Kabupaten Aceh Barat merilis perkembangan terbaru penanganan bencana banjir besar yang melanda wilayah tersebut. Sejak banjir terjadi pada Rabu (26/11/2025), pemerintah daerah terus melakukan langkah tanggap darurat, pendataan kerusakan, serta pemulihan sarana prasarana publik yang terdampak.

Perkembangan tersebut disampaikan Plt Sekretaris Daerah yang juga menjabat sebagai Kadis PUPR, Dr. Kurdi, mewakili Bupati Aceh Barat Tarmizi SP MM, di Posko Bersama Penanggulangan Bencana Banjir dan Longsor Aceh Barat, Minggu malam (30/11/2025).

Dalam laporannya, Kurdi menjelaskan bahwa kerusakan terparah terjadi pada infrastruktur vital, terutama jembatan, badan jalan, serta akses menuju permukiman warga yang hingga kini masih terisolasi. Total kerugian fasilitas publik sementara ditaksir mencapai Rp200.968.884.000.

“Sejumlah kawasan di Kecamatan Pante Ceureumen, Woyla Raya, dan Arongan Lambalek masih belum dapat diakses sepenuhnya. Desa Sikundo masih terisolir total, sedangkan Desa Lawet mulai bisa dijangkau meski distribusi bantuan terkendala jalan licin dan berlumpur,” ujar Kurdi.

Kerusakan tidak hanya terjadi pada fasilitas umum. Pemkab Aceh Barat juga mencatat empat unit rumah hanyut dibawa arus banjir, sementara tiga rumah lainnya mengalami kerusakan berat.

Situasi paling memprihatinkan terjadi di Desa Keutambang, di mana tujuh rumah beserta kantor desa rusak parah. Akses jalan menuju desa tersebut terputus total, membuat proses evakuasi warga belum dapat dilakukan secara maksimal.

Meski begitu, tim gabungan kini sedang berupaya membuka jalur alternatif menuju Keutambang. Kurdi menegaskan seluruh unsur pemerintah daerah, BPBD, TNI/Polri, relawan, hingga perangkat desa terus bekerja tanpa henti untuk membuka akses dan mempercepat penyaluran bantuan.

Berdasarkan pendataan, sejumlah titik infrastruktur mengalami kerusakan berat. Di Peulo Teungoh, badan jalan sepanjang 50 meter putus total. Jembatan Gantung Canggai dinyatakan rusak berat, sementara Jembatan Gantung Ketambang Canggai ambruk sepenuhnya.

Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Sungai Mas, tepatnya di Desa Tungkop, di mana jembatan utama terputus, dan badan jalan Gaseu–Siput sepanjang 38 meter mengalami kerusakan parah.

“Kerusakan ini sangat menghambat suplai logistik dan mobilitas tim gabungan. Fokus utama kita saat ini adalah menyelamatkan warga, membuka akses yang terputus, dan memastikan bantuan segera sampai,” tambah Kurdi.

Sementara itu, Plt Kalaksa BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, mengatakan hingga Minggu malam tim BPBD masih terus melakukan evakuasi warga yang terjebak banjir sekaligus menyalurkan bantuan pangan serta air bersih.

“Evakuasi terus berlangsung di sejumlah desa di Kecamatan Pante Ceureumen, bersamaan dengan distribusi logistik kepada warga terdampak,” ungkap Ronal.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat juga mengimbau masyarakat tetap waspada mengingat potensi banjir susulan dan longsor masih dapat terjadi meski intensitas hujan mulai menurun. ***