Krusial.com — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 17 starlink dan genset dibuka untuk komunikasi darurat di Provinsi Sumatra Utara yang terdampak banjir dan longsor.
Adapun wilayah yang menjadi kawasan bencana terparah berada di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). “Memang ada kabupaten dan kota yang masih belum pulih. Masih perlu pemulihan, misalnya, Tapanuli Tengah. Kalau kita masuk ke sana, tidak ada sinyal (komunikasi) sama sekali,” ujar Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto saat konferensi pers, Jakarta, Jumat (28/11/2025).
Suharyanto mengatakan, untuk memastikan komunikasi tetap berjalan, BNPB memasang perangkat Starlink yang didistribusikan ke berbagai titik di daerah terdampak.
“langkah kami adalah kita memasang jalur komunikasi darurat jadi menggunakan Starlink. Jadi Starlink juga sudah didistribusikan baik ke pemerintah daerah, titik pengungsian,” kata dia.
Dia mengatakan, meski penggunaan komunikasi darurat itu masih terbatas, namun warga yang berada di Tapteng sudah bisa terhubung dengan sanak saudaranya di luar daerah.
“Walaupun masih terbatas per sore ini relatif masyarakat di Tapanuli Tengah sudah bisa berkomunikasi keluar daerah Tapanuli Tengah. Jadi yang sebelumnya tidak bisa mengontak keluarganya itu rata-rata yang keluarganya ada di Kabupaten Tapanuli Tengah sekarang dengan adanya sistem komunikasi darurat ini mudah-mudahan bisa sedikit terbuka dan terus kami perbaiki,” jelasnya.
47 Orang Tewas
Informasi saja, Kabupaten Tapteng menjadi zona krisis setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda sejak Selasa (25/11/2025). Hingga Jumat (28/11/2025) pukul 12.00 WIB, korban jiwa yang ditemukan mencapai 47 orang. Sedangkan 507 warga mengalami luka-luka. Sebanyak 51 orang hilang, masih dalam pencarian.
Selama tiga hari terakhir, wilayah Tapteng dan sebagian Sibolga praktis terputus dari dunia luar. Listrik padam total, pasokan air bersih berhenti, dan jaringan internet mati. Kondisi ini membuat proses evakuasi berlangsung lambat dan penuh hambatan.
Bencana besar ini melumpuhkan tiga jalur strategis. Dari selatan, dua jembatan utama yakni Jembatan Kalangan dan Jembatan Anggoli, mengalami ambruk. Karena tersapu banjir.
Dari utara, longsor panjang menutup jalan di Sitahuis. Dari barat, banjir di Kolang serta putusnya Jembatan Sorkam membuat bantuan dari arah Aceh Singkil terhenti total. Para relawan terpaksa mencari rute alternatif melalui jalur kecil, namun banyak yang ikut rusak.
Kerusakan terparah dilaporkan terjadi di lima kecamatan. Di Pandan, 11 korban ditemukan meninggal dunia dan pengungsi mencapai 665 orang. Kecamatan Tukka mencatat jumlah korban paling banyak: 26 meninggal, 505 luka, dan 33 hilang. Di Badiri, satu korban tewas dan 12 hilang. Barus melaporkan dua orang meninggal dunia, sementara Sitahuis tujuh orang.
Melihat skala kerusakan yang masif dan jumlah korban yang terus bertambah, penanganan bencana di Tapteng telah dinaikkan menjadi status darurat berskala nasional. Pemerintah daerah telah memusatkan lokasi pengungsian di GOR Pandan, sementara dapur umum dibuka untuk menampung kebutuhan ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal.
Tinggalkan Balasan