Krusial.com — Kualitas makanan yang disediakan untuk para santri di Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Panjupian, Kecamatan Tapaktuan, kembali menjadi sorotan publik setelah ditemukan adanya belatung di dalam menu makanan.
Temuan ini memicu kekhawatiran serius akan kondisi kesehatan dan gizi para santri yang menempati pesantren tersebut.
Berdasarkan bukti foto dan video yang beredar, belatung tersebut diduga berasal dari lalat hijau yang dikenal sebagai penyebar bakteri berbahaya.
Hal ini menambah keprihatinan, mengingat pengadaan makan minum untuk 230 santri (190 santri penerima subsidi dan 40 santri mandiri) dibiayai dari anggaran sekitar Rp1,6 miliar per tahun oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan.
Meski demikian, pengawasan terkait kebersihan dan kualitas makanan dinilai sangat lemah.
Koordinator Forum Peduli Aceh Selatan (For-Pas), T. Sukandi, mengkritik pemerintah daerah dan instansi terkait yang dianggap lalai dalam mengawasi mutu makanan yang disediakan.
Ia menyesalkan bahwa masalah berbelatung dalam makanan ini terjadi berulang kali dan mengancam kesehatan serta nyawa para santri.
Lebih lanjut, banyak orang tua santri terpaksa menyediakan makanan sendiri untuk anak-anak mereka karena takut terhadap kualitas makanan yang disajikan di pesantren.
“Tidak hanya santri, para guru pengawas yang tinggal di asrama juga menghadapi situasi memprihatinkan karena tidak mendapatkan jatah makan dari pengelola, sementara gaji mereka minimal dan jarang cair,” kata T. Sukandi, Sabtu (13/9/2025).
Pihak Dinas Pendidikan Dayah Aceh Selatan selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) mengakui adanya laporan soal belatung tersebut, tetapi rekanan penyedia makanan membantah dengan alasan kendaraan makanan dan wadah yang terbuka menjadi penyebab lalat hinggap.
Kontrak pengadaan makanan tahun ini dijalankan oleh perusahaan CV Gilan Prima dengan ketentuan mencakup hanya santri, bukan guru.
Selain masalah kebersihan, makanan yang disajikan juga dikritik karena buruknya kandungan gizi dan penggunaan wadah plastik murah yang berisiko melepaskan zat berbahaya seperti BPA dan ftalat ke dalam makanan. Paparan zat ini dalam jangka panjang dapat berdampak serius pada kesehatan anak-anak.
Forum Peduli Aceh Selatan dan kalangan masyarakat meminta pemerintah daerah agar segera memperbaiki pengawasan kualitas makanan di pesantren dengan menyediakan fasilitas makan yang layak, melakukan audit dan uji laboratorium terhadap makanan, serta memberikan subsidi makan bagi guru pengawas untuk menjaga keberlangsungan pendidikan.
Mereka menekankan agar kejadian serupa tidak terulang demi keselamatan dan kesehatan para santri yang menjadi masa depan daerah ini.***
Tinggalkan Balasan