Krusial.com — Bagi sebagian orang, kotoran hewan atau kohe dianggap sebagai limbah kotor dan menjijikkan. Namun, tidak bagi Adi Harianto (50 tahun), salah satu anggota P4S Asri Farm. Di tangannya, limbah kotoran sapi disulap menjadi sesuatu yang dapat menghasilkan cuan alias uang. Sambil menunjukkan area pengolahan limbah kotoran sapinya, Adi bercerita bahwa ia mulai mengolah kotoran hewan tersebut sejak beberapa bulan lalu, ketika banyak kotoran hewan di wilayah Rowokangkung.
“Saya dan teman-teman anggota P4S Asri Farm sudah menekuni ini sejak tahun 2023. Awalnya, kami berkumpul dengan Ketua Asri Farm, Muhammad Dahlan, untuk melakukan koordinasi persiapan lahan, dan alhamdulillah, responsnya sangat baik,” tutur Adi kepada Krusial, Rabu (27/8/2025).
Adi mendapatkan kotoran sapi tersebut dari para peternak yang ada di sekitar Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang. Dalam sehari, P4S Asri Farm dapat mengolah antara 6.000 hingga 10.000 liter pupuk cair dari kotoran sapi, termasuk produk seperti Biourine, PGPR, Biourin N Level, Asam Amino, dan pupuk Genderuwo.
“Tempat kami menampung beberapa ekor sapi dengan kapasitas total 200 hingga 500 liter. Proses pembuatannya dibantu oleh beberapa orang,” jelas Adi.
Proses pembuatan pupuk organik cair sendiri membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari. Pertama, Adi akan mengumpulkan kotoran sapi, lalu mencampurkannya dengan 60 liter urine, 50 kg kohe basah, 5 kg kapur, 12,5 kg urea, 12,5 kg NPK, serta bahan tambahan seperti Sulfok, Banon, Dogumon, dan 150 liter air sumur. Campuran ini cukup untuk diaplikasikan pada 1 hektare tanaman.
“Semua bahan dicampur menjadi satu. Fungsinya agar baunya hilang, dan kotoran tersebut menjadi lebih baik serta warnanya pudar,” tutur Adi.
Adi memaparkan bahwa pupuk cair hasil buatan P4S Asri Farm sudah diuji coba di lahan riset di berbagai tempat, salah satunya di lahan riset Asri Farm sendiri di Desa Kedungrejo, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pupuk organik cair tersebut layak untuk dipasarkan.
“Dan hasilnya bagus, tanaman menjadi lebih sehat, sehingga bisa dipertanggungjawabkan,” ungkap Adi.
Meskipun memiliki dampak lingkungan yang besar, P4S Asri Farm masih menghadapi beberapa kendala dalam mengelola limbah kotoran hewan. Salah satunya adalah kondisi lahan yang masih minim, yang menjadi penghalang bagi P4S Asri Farm untuk memproduksi pupuk organik cair lebih banyak. Selain itu, mereka juga kesulitan dalam memasarkan produk pupuk organik cairnya. Adi berharap, ke depan pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan pengelola limbah ternak seperti P4S Asri Farm.
“Justru terhambatnya di pemasaran, padahal ini adalah pupuk organik cair. Kami berharap dinas dapat membantu menghubungkan untuk pemasarannya. Mata rantai pemasaran belum terbangun, dan kami masih bergerak sendiri,” pungkas Adi.
Tempat pengelolaan limbah yang dikelola P4S Asri Farm berlokasi di Dusun Pondok Asri, Desa Kedungrejo, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang.***
(PRAYITNO)
Tinggalkan Balasan