Krusial | Bojonegoro — Marmi, seorang perempuan berusia 50 tahun asal Dusun Besuki, Desa Kedungbondo, Kecamatan Balen, Bojonegoro, telah berhasil mengembangkan usaha budidaya ayam petelur yang sederhana namun menguntungkan. Sebagai kepala keluarga, Marmi dapat hidup layak dan bahagia berkat usaha yang telah digelutinya selama 7 tahun.

Pada tahun 2017, Marmi dan suaminya, Nurashuri, memulai usaha budidaya ayam petelur dengan modal seadanya dan 200 ekor ayam. Mereka bekerja keras setiap pagi dan sore untuk mengembangkan usaha yang baru mereka tekuni.

“Awalnya, tahun 2017, kami membuat kandang ini seadanya dengan 200 ekor ayam. Kemudian, kami menambah jumlah ayam sedikit demi sedikit,” tutur Marmi.

Dalam perjalanan berternak ayam petelur, Marmi mengaku pernah mengalami kegagalan dalam mengelola usaha yang telah dibangunnya. Namun, dia tidak menyerah dan terus berusaha.

“Kalau ayam mati itu tergantung. Waktu flu burung di tempat lain ada yang mati, di sini juga tidak apa-apa. Tapi pas banyak sampai 600 ekor mati semua juga pernah. Terus beli lagi 200 ekor, yang kecil juga 200 ekor sampai saat ini,” imbuh Marmi.

Marmi kini sangat menikmati pekerjaannya sebagai peternak ayam petelur. Dia menghabiskan hari-harinya memberi makan dan minum ratusan ternak ayam di rumahnya dan memanen telurnya setiap siang.

“Penggaweane ya hanya ini, dilakoni sendiri. Sehari kan makan 2 kali ayam ini. Jam 7 pagi kasih makan, nanti siang jam 1 ngasih makan terus ngunduh telurnya,” tutur Marmi.

Saat ini, 600 ekor ayam petelur milik Marmi dapat menghasilkan 25 kilogram telur tiap harinya. Telur itu dijual di toko sekitar rumahnya hingga terkadang diambil oleh sales telur.

“Iya, kalau dulu 200 ayam itu bisa dapat 8 sampai 10 kilogram. Sekarang tiap hari panen 25 kilo kurang lebihnya. Ya bisa dapat lah kalau setiap hari 100 ribu bersihnya, tapi kalau harga telur tinggi ya bisa dapat lebih juga uangnya,” ucap Marmi.

Untuk pakan, Marmi mengaku selalu memberi pakan teratur yang dijual pabrikan dicampur dengan jagung. Ayam petelur ini rata-rata mampu bertelur di usia 4 atau 5 bulan dan akan bertelur setiap hari selama 2 tahun.

“Kalau pakan biasanya ada dua merk pabrikan yang aku beli, terkadang ya juga dicampuri jagung. Ya ikut penyuluhan kelompok juga dari dinas meski tak pernah dapat bantuan ayam,” pungkas Marmi sambil tersenyum. (Prayitno)