Krusial | Aceh Selatan — Hasbaini, seorang pemuda yang lahir di Pulo Kambing, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, pada tanggal 17 Juli 1979, memiliki kisah hidup yang inspiratif. Awalnya, ia merupakan korban konflik Aceh, gempa, dan tsunami Aceh 2004. Kondisi tersebut memaksanya meninggalkan kampung halaman dan merantau ke daerah yang lebih aman.

Dengan semangat yang tak pernah padam, Hasbaini melanjutkan pendidikannya di Universitas Muhammadiyah Banda Aceh, jurusan Tadris Bahasa Inggris. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magisternya di Program Pasca Sarjana FKIP Universitas Syiah Kuala (USK), jurusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris.

Hasbaini tidak hanya berhasil dalam pendidikannya, tetapi juga dalam mengatasi kesulitan ekonomi. Ia bekerja sebagai kuli bangunan untuk membiayai kuliahnya. Namun, ia tidak pernah menyerah dan terus bersemangat dalam menjalani kehidupan.

Kini, Hasbaini telah menjadi seorang dosen di sebuah perguruan tinggi vokasi di Aceh Selatan. Ia juga aktif di media sosial dengan nama akun “Hasbaini Ben” dan sering membagikan quote inspiratif serta fakta kehidupan. Hasbaini telah menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah alasan untuk tidak kuliah. Ia telah mendidik tiga orang adik-adiknya sampai ke perguruan tinggi.

Hasbaini lahir dari pasangan Syarifuddin dan Nursunah, yang telah berpulang ke Rahmatullah. Ia menikah dengan Silmi Rahmah SPd pada tahun 2019 dan telah dikaruniai seorang putra. Meskipun sibuk dengan pekerjaannya sebagai akademisi, Hasbaini tidak pernah lupa dengan keluarganya dan sering berkebun seperti petani pada umumnya.

Filosofi hidup Hasbaini dapat diringkas dalam satu kata: “Jadikan belajar itu ibarat orang yang sedang belajar bersepeda. Sebelum bisa mendayungnya, tidak akan berhenti, walaupun harus terjatuh-jatuh dan terluka.”