Krusial | Lombok – Ramadhan menjadi bulan yang selalu ditunggu oleh ummat islam seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Berbagai macam kegiatan dirutinkan untuk mengisi hari-hari ramadhan agar terus mendapatkan pahala. Seperti kegiatan berbuka bersama.
Momen berbuka bersama, selalu memiliki keunikan tersendiri di setiap daerah Indonesia, tidak terkecuali dengan yang di Lombok. Di wilayah Lombok, sebuah pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, tradisi berbuka puasa diisi dengan beragam jajanan khas yang melambangkan kekayaan budaya dan kebersamaan masyarakat setempat.
Lombok terkenal sebagai pulau dengan seribu masjid. Melambangkan penduduk Lombok mayoritas adalah muslim. Semasa penyebaran islam, masyarakat Lombok memiliki interaksi dagang yang cukup intens dari berbagai wilayah lainnya.
Seperti Jawa, Aceh, Sulawesi, bahkan juga dari negeri Arab. Hal ini memberikan pengaruh signifikan terhadap budaya dan tradisi Lombok. Diantaranya adalah jajan khas Lombok.
Seiring berkembangnya zaman, jajanan khas tersebut terus dipertahankan sehingga menjadi keunikan tersendiri ketika dihidangkan di saat berbuka puasa.
Sayangnya, tidak semua warga memiliki kesempatan lagi untuk membuat secara mandiri jajanan khas tersebut manakala bulan puasa telah tiba. Munculnya berbagai inovasi kuliner di zaman modern ini hampir saja membuat jajanan khas Lombok terpinggirkan.
Namun, hal itu terselamatkan berkat adanya pasar – pasar tradisional yang menjual makanan khas tradisional daerah setempat. Ragam jajanan yang dijual mencerminkan kekayaan kuliner lokal dan keanekaragaman budaya masyarakat Lombok. Nah, apa saja sih jajanan takjil khas Lombok ? Yuk simak berikut ini.
1. Kelepon Kecerit
Kelepon adalah jajan berbahan utama tepung ketan, daun pandan, santan, dan gula merah.
Jajan basah ini mirip dengan jajan klepon Jawa. Kelepon khas Lombok ini memiliki ciri bentuknya agak lonjong, lebih besar, dan memiliki sensasi lelehan gula merah di setiap gigitannya.
Kadang setiap gigitan pertama, lelehan gula merahnya sedikit terciprat keluar. Hal itulah kenapa ada tambahan nama kecerit yang artinya terciprat. Masyarakat menghidangkan kelepon kecerit hanya untuk dimakan secara bersama – sama. Momen kebersamaan itu biasanya ada saat menunggu waktu berbuka puasa.
2. Kue Bantal
Kue bantal terbuat dari ketan dengan isian pisang dan dibungkus dengan daun pisang. Disebut Kue bantal karena bentuknya menyerupai bantal. Biasanya kue bantal disajikan untuk acara-acara sakral seperti pernikahan, selamatan, maulid, dan saat berbuka puasa.
Kue bantal termasuk jajan khas Lombok yang sudah mulai jarang dibuat dan diminati oleh anak zaman sekarang. Kehadirannya hanya ada saat acara sakral seperti yang disebutkan tadi.
3. Kue Abuk
Jajan khas berikutnya adalah kue abuk. Kue abuk sebenarnya adalah kue yang berasal dari Jawa. Di Jawa namanya adalah kue tipas, di Lombok namanya adalah kue abuk. Bedanya adalah kue abuk bentuknya lebih minimalis dan agak tipis.
Bahan dasarnya juga sama yaitu tepung ketan, buah kelapa, garam dan gula merah. Sebetulnya kue abuk lebih akan lebih nikmat rasanya bila bersama secangkir kopi. Namun hal itu tidak jadi masalah selagi ada air putih.
4. Jaje Ore
Jaje (Kue) ore termasuk kue khas Lombok yang cukupn langka. Sejauh ini hanya masyarakat pedesaan yang masih setia membuatnya. Seperti kue laiinya, kue ini hanya dibikin hanya saat-saat tertentu atau ketika ada acara keagamaan atau acara pernikahan.
Jaje ore memiliki bentuk berserat dengan bahan tepung beras dan campuran rumput laut. Bentuk unik dan tidak beraturanlah yang menjadikannya khas sehingga disebut dengan nama ore. Ore itu sendiri berasal dari kata Lombok yang artinya tidak teratur.
Itulah jajan khas Lombok yang biasa disajikan saat berbuka puasa. Lebih dari sekadar mengisi perut setelah seharian berpuasa, berbuka puasa di Lombok adalah momen kebersamaan yang penuh dengan sukacita.
Masyarakat Lombok memiliki tradisi kuat untuk berbuka bersama, baik di rumah masing-masing maupun di tempat-tempat umum seperti masjid atau lapangan terbuka. Kebersamaan ini menguatkan ikatan sosial dan spiritual antarindividu dan komunitas.
Dengan demikian, jajanan khas bulan Ramadhan di wilayah Lombok tidak hanya menjadi suguhan bagi perut yang lapar, tetapi juga merupakan cerminan dari kekayaan budaya dan tradisi kebersamaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Melalui jajanan-jajanan tersebut, rasa syukur dan kegembiraan atas karunia bulan Ramadhan semakin terasa, menguatkan ikatan antarindividu dan menghidupkan semangat kebersamaan yang menjadi salah satu ciri khas bangsa Indonesia.***
Tinggalkan Balasan