Krusial | Jakarta — Rupiah tercatat mengalami penurunan 0,7% ke level 16.559 per dolar Amerika Serikat Jumat, (28/02). Angka ini turun hampir 3% pada tahun ini. Rupiah menjadi yang terburuk di antara negara-negara di Asia.

Mata uang tersebut jatuh ke level terendah sejak April 2020 karena kekhawatiran akan tarif yang diberlakukan Donald Trump pada 3 Maret. Ini juga membuat investor asing menjual saham dalam negeri hingga US$1,2 miliar tahun ini, mengimbangi arus masuk obligasi dan membebani rupiah.

“Rupiah sepertinya akan terus diperdagangkan dengan nada yang lebih risk-off karena kegelisahan pasar muncul kembali karena pemberlakuan tarif Kanada dan Meksiko, dan Cina semakin dekat,” ujar Pakar Strategi Malayan Banking Bhd di Singapura Alan Lau.

Meski begitu, sentimen tarif tersebut tak hanya merugikan rupiah, namun juga sejumlah mata uang Asia lainnya. Baht Thailand turun 0,03 persen, won Korea Selatan minus 0,10 persen, dolar Singapura minus 0,51 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,46 persen.

Sedangkan mata uang utama negara maju dibuka menguat. Poundsterling Inggris naik 0,06 persen, euro Eropa naik 0,02 persen, franc Swiss naik 0,11 persen, dolar Kanada naik 0,03 persen, dan yen Jepang naik 0,30 persen.***