Krusial | Jakarta — Dua emiten energi terbarukan, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), menyampaikan beberapa target yang akan direalisasikan dalam waktu dekat.

Dari sisi PGEO, entitas anak PT Pertamina New & Renewable Energy/PNRE ini memiliki sederet portofolio yang siap beroperasi dan diluncurkan pada tahun ini. Salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi menyampaikan, progres PLTP Lumut Balai Unit 2 berjalan on the track dan dijadwalkan mulai on stream pada pertengahan tahun ini.

Isu sebelumnya seperti persoalan equipment kini sudah teratasi, tinggal faktor cuaca yang menjadi isu di lapangan. Meski demikian, Edwil memastikan, PGE sudah mengerahkan semua tim untuk bekerja dalam tiga shift, sehingga pekerjaan terus berlangsung hampir 24 jam.

“Jadi, mohon doanya semoga semuanya bisa berjalan lancar, Lumut Balai Unit 2,” ujarnya baru-baru ini.

Di samping itu, secara internal PGE juga sedang dalam proses meminta approval untuk Lumut Balai Unit 3. Menurut Edwil, ini dilakukan supaya pada saat Lumut Balai Unit 2 on stream, perseroan dapat langsung meluncurkan pengembangan Lumut Balai Unit 3 sebesar 55 MW.

“Dari segi lokasi (Lumut Balai Unit 3) sudah kami siapkan. Jadi, dalam proses perizinan ke pemerintah. Harapannya, tahun ini proyek Lumut Balai Unit 3 sudah bisa kami umumkan,” tutur dia.

Selain dua proyek tersebut, emiten berkode saham PGEO tersebut juga mengungkap perkembangan terbaru mengenai proyek co-generation (co-gen) PGE bersama mitra strategisnya, PT PLN Indonesia Power (PLN IP).

Edwil mengatakan, PGE akan menyelesaikan seluruh administrasi proyek co-gen pada tahun ini. Dengan begitu, tender pengadaan untuk co-gen PLTP Ulubelu dan Lahendong akan bisa dilaksanakan pada tahun ini dan diharapkan dalam 12-15 bulan ke depan bisa commercial operation date (COD).

Portofolio terakhir yang dilaporkan adalah proyek panas bumi di Kenya, hasil kemitraan G2G antara Pemerinta Indonesia dan Kenya. Edwil berterus terang, PGE sedang dalam tahap menuntaskan joint development agreement (JDA) dengan Geothermal Development Company (GDC), perusahaan milik Pemerintah Kenya.

“Jika, semua berjalan lancar, apa yang menjadi condition precedent kami bisa terima, begitu juga sebaliknya. Mungkin, tahun ini kami akan menandatangani JDA dengan GDC. Kalau semuanya berjalan lancar, PGE akan menindaklanjuti perjanjian Indonesia-Afrika dengan berinvestasi di Kenya,” papar Edwil.

Direktur Utama Barito Renewables, Hendra Tan, mengungkapkan semua unit dalam portofolio BREN saat ini beroperasi dengan normal. Bahkan, perseroan berhasil meningkatkan kapasitas baik dari ekspansi organik maupun anorganik ke portofolio. “Kami sukses menambah kapasitas melalui akuisisi pembangkit listrik tenaga angin kami di Sidrap sebesar 78.75 MW,” ujarnya dalam jawaban tertulis kepada Investor Daily dikutip, Senin (24/3/2025).

Bukan hanya itu, Hendra menuturkan, BREN juga saat ini on track dalam menambahkan 118.6 MW kapasitas panas bumi hingga 2026. Salah satunya melalui proyek Salak Binary yang sudah menuntaskan commissioning test. Dalam tes dengan rentang waktu 72 jam itu, Salak Binary sukses menghasilkan 14,48 MW listrik, lebih tinggi dari ekspektasi awal.

Ke depan, emiten Prajogo Pangestu ini bakal terus mengeksplorasi peluang investasi dan pengembangan strategis untuk memperluas portofolio energi terbarukan. “Dengan pipeline proyek yang kuat, kami berkomitmen meningkatkan kapasitas terpasang, memperkuat peran sebagai pemimpin dalam transisi energi Indonesia, serta menciptakan nilai jangka panjang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Hendra.***

source: investor.id