Krusial.com — Ditengah upaya mencari sumber ekonomi berkelanjutan, nilam muncul sebagai komoditas yang menjanjikan. Tanaman penghasil minyak atsiri ini menunjukkan potensi luar biasa, khususnya bagi petani di Aceh.

Salah satu hal yang menarik dari nilam adalah nilai tambah ekonominya. Dalam istilah pembangunan, ini dikenal sebagai nilai tukar petani yaitu perbandingan antara omset yang diperoleh dengan modal yang dikeluarkan.

“Dan fakta mengejutkannya, nilai tukar petani untuk nilam di Aceh bisa mencapai lebih dari 300 persen. Artinya, keuntungan yang diperoleh petani bisa tiga kali lipat dari modal yang dikeluarkan,” Ujar Elly Sufriadi, Sekretaris Atsiri Research Center (ARC) USK, saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif bersama RRI, Minggu (1/6/2025).

Disebutkan Elly, saat ini nilam tercatat sebagai satu-satunya komoditas di Aceh yang memiliki nilai tukar petani yang sangat tinggi. Komoditas lain belum mampu menyamai pencapaian tersebut dari produksi nilam.

Diungkapkannya, modal budidaya nilam per hektar berkisar antara 20 hingga 30 juta rupiah, tergantung pada penggunaan tenaga kerja. Namun, biaya ini bisa ditekan lebih rendah bila lahan dikelola sendiri oleh petani.

Dari satu hektar lahan nilam, petani bisa menghasilkan antara 180 hingga 200 kilogram minyak nilam. Dan harga pasaran minyak nilam saat ini sekitar Rp1,5 juta per kilogram.

Jika dihitung secara kasar, satu hektar lahan nilam bisa menghasilkan omzet lebih dari 300 Juta Rupiah. Ini jelas menjadi angka yang sangat menarik di tengah fluktuasi harga komoditas lain.

Tak heran jika banyak pihak mulai melirik nilam sebagai alternatif sumber pendapatan yang stabil dan berkelanjutan. Terlebih, nilam juga memiliki pasar ekspor yang terus berkembang.

“Untuk saat ini, belum ada komoditas lain yang mampu menyaingi prospek ekonomi nilam. Potensi ini perlu dimaksimalkan sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah,” tutupnya.***