Laporan: Safdar.S

Krusial.com| Aceh Selatan – Sebanyak 55 Anggota MPU Aceh Selatan, pegawai sekretariat dan perwakilan pemerintah Kabupaten Aceh Selatan melakukan kunjungan Muhibbah ke Padang Provinsi Sumatera Barat.

Berjarak sekitar 800 km dari ibukota Aceh Selatan dengan waktu tempuh hampir 20 jam, tak membuat para ulama di Aceh Selatan ini patah semangat demi menjalin hubungan silaturahmi dengan mengharapkan Ridha ilahi, menempuh perjalanan darat rombangan pun mulai menempuh perjalannya pada Selasa (27/9/2022).

Setelah menempuh waktu hingga 20 jam via lintas barat Sumatera, akhirnya rombongan sampai di Ibukota provinsi berjuluk Ranah Minang itu pada Rabu (28/9/2022).

Setelah beristirahat, keesokannya rombangan Kunjungan Muhibbah MPU Aceh Selatan melakukan pertemuan silaturahmi dengan Ketua MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa beserta pejabat MUI Sumatera Barat dan perwakilan Provinsi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat pada Kamis (29/9/2022).

Banyak ulasan terkait awal mula kehadiran MUI Sumatera Barat yang dipelopori Buya Hamka langsung dapat dari Buya Gusrizal Gazahar, bagaimana MUI berkembang dan bertahan dalam memperjuangkan persoalan keumatan di provinsi tersebut, hingga tantangan yang dihadapi MUI Sumatera Barat dalam menjalankan amanahnya sebagai ulama di Sumatera Barat.

Disamping itu, MUI Sumatera Barat juga merasa penasaran dengan perkembangan pelaksanaan syariat Islam di bumi Aceh khususnya Aceh Selatan. Secara detail MUI menanyakan hal tersebut kepada ulama Aceh Selatan dan dijawab secara rinci apa yang menjadi tugas fungsi MPU di Aceh Selatan termasuk kehadirannya sebagai penasehat pemerintahan.

Mengunjungi Makam Syekh Burhanuddin Ulakan Di Pariaman

Usia melakukan pertemuan silaturahmi dengan MUI Sumatera Barat, MPU Aceh Selatan lalu melanjutkan perjalanan menziarahi salah satu makam ulama besar nan karamah di Pariaman tepat di Ulakan, yaitu makam Syekh Burhanuddin Ulakan.

Berdasarkan penelusuran, Burhanuddin Ulakan Pariaman atau dikenal dengan sebutan Syekh Burhanuddin Ulakan lahir tahun 1646 di Sintuk, Sintuk Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman dan meninggal 20 Juni 1704 pada umur 58 tahun) adalah ulama yang berpengaruh di daerah Minangkabau, beliau merupakan ulama sufi (mursyid) di daerah Minangkabau dan ulama penting pertama yang mendirikan surau sebagai pusat keagamaan.

Menginjak usia dewasa, Syeikh Burhanuddin mulai merantau dan meninggalkan tempat orang tuanya. Syekh Burhanuddin pernah belajar di Aceh dan berguru kepada Syekh Abdur Rauf As-Singkili, sepuluh tahun lamanya Syeikh Burhanuddin belajar ilmu-ilmu keislaman maupun tarekat dari gurunya, Syekh Abdur Rauf As-Singkili.

Setelah beberapa tahun menuntut ilmu di Aceh, Syeikh Burhanuddin kembali ke tempat asalnya, Minangkabau, untuk menyebarkan ajaran Islam, pada tahun 1680, beliau kembali ke Ulakan dan mendirikan surau di Tanjung Medan yang terletak di kompleks seluas sekitar lima hektare.

Di surau inilah beberapa aktivitas keagamaan dan sosial dilakukan, seperti shalat lima waktu, belajar ilmu agama, musyawarah, berdakwah, termasuk berkesenian dan mempelajari ilmu bela diri. Surau ini kemudian berkembang pesat dan menjadi sebuah Pondok Pesantren. Syeikh Burhanuddin memperoleh penghormatan yang luar biasa oleh masyarakat, sehingga ajaran yang ia bawa mudah diterima di sana. Selain itu, mulai banyak murid dan santri yang berdatangan untuk berguru kepadanya, baik dari wilayah Minangkabau sendiri, Riau, Jambi, Malaka, maupun dari daerah-daerah lain.

Melalui pesantren asuhannya, Syeikh Burhanuddin mengajarkan berbagai disiplin ilmu keislaman kepada para santrinya, seperti ilmu tafsir, hadis, fikih, akidah, dan lain-lain. Selain itu, ia juga mendakwahkan Islam melalui pengajian kepada warga masyarakat. Atas usaha Syeikh Burhanuddin tersebut, ajaran Islam cepat menyebar di wilayah Minangkabau hingga saat ini.

Mengunjungi MTI Canduang

Rombongan Muhibbah MPU Aceh Selatan juga Mengunjungi MTI (Madrasah Tarbiyah Islamiyah) Canduang yang berlokasi di Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada Jumat (30/9/2022).

Kunjungan Muhibbah MPU Aceh Selatan ini mendapatkan sambutan hangat dari pengurus MTI Canduang, perlu diketahui, MTI Canduang adalah institusi Pendidikan Islam yang dikembangkan oleh Maulana Syekh Sulaiman Arrasuli dari halaqah pengajian kitab-kitabnya di Surau Baru Pakan Kamis Canduang yang beliau tekuni sejak tahun 1908 sepulang belajar dari Mekkah.

Atas kesepakatan dengan sahabat-sahabatnya yang juga mengasuh pengajian halaqah Thuras yaitu Syekh Abbas Ladang Laweh dan Syekh Djamil Djaho, maka Sejak 5 Mei 1928 pola pendidikan halaqah itu berobah menjadi klasikal dengan memakai kelas, bangku, meja dan papan tulis untuk sebagai sarana belajar.

Memasuki tahun 1950 Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang terdaftar di Departemen Agama. Pada tahun 1961 MTI Canduang di payungi oleh Yayasan Syekh Sulaiman Arrasuli.

Syekh Sulaiman ar-Rasuli adalah sosok ulama pejuang yang hidup pada tiga masa, yaitu masa pra kemerdekaan, masa kemerdekaan, dan masa pasca kemerdekaan.

Karakter Madrasah Tarbiyah Islamiyah dibangun oleh Syeikh Sulaiman ar-Rasuli
Menganut Faham Ahlussunnah wal Jama’ah (dalam kajian Akidah)
Menganut Mazhab Syafi’i (dalam kajian Fiqh)
Mempertahankan pola Halaqah dalam pendalaman kitab kuning disamping pola klasikal dalam PBM secara umum
Memberdayakan Tradisi Mudzakarah (Mempunyai Kebiasaan Kritis, Dialogis, Berfikir Moderat)

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli sebagai Tokoh Sosial Keagamaan dan Kemasyarakatan
Tokoh adat Minangkabau yang merekonstruksi dan menetapkan bunyi pepatah: “Syara’ mangato, adat mamakai; Minangkabau batubuah adat, bajiwa syara’; Pangulu-pangulu salaku juru batu, dan alim ulama salaku kamudi; Adat basandi syara’, Syara’ basandi Kitabullah”

Dari kunjungan Muhibbah ulama MPU Aceh Selatan ini, banyak dapatkan informasi baru yang tentunya dapat digunakan dalam melaksanakan tugas keumatan di Aceh Selatan.

Sebagian besar anggota MPU Aceh Selatan merupakan pimpinan pesantren atau Dayah, sehingga kegiatan ini tentu menjadi hal yang positif dalam mengembangkan pendidikan agama di Aceh Selatan.

Ketua MPU Aceh Selatan, Tgk. Armiya Ahmad mengatakan, selain Bermuhibbah, kunjungan ini tentu saja sarat muatan Muhasabah yang tentunya dengan melihat dan mendapatkan langsung informasi-informasi penting baik itu sejarah pendidikan, perjuangan Islam dan lembaga-lembaga Islam lainnya.

” Besar harapan kami, Muhibbah ini menjadi Muhasabah bagi kita semua untuk terus melanjutkan perjuangan Islam dengan fungsi dan peran masing-masing,” ucapnya.

Ketua MPU Aceh Selatan ini mengatakan Sumatera Barat sebagai provinsi tetangga memiliki kedekatan historical dan budaya yang sangat lekat dengan Aceh, baik itu perkembangan Islamnya dan hubungan baik sejak masa lalu.

” Semoga kunjungan Muhibbah ulama MPU Aceh Selatan ini dapat dijadikan spirit baru bagi kita semua,” tandasnya.