Syair islami atau qasidah tidak pernah terdengar lagi dari masjid pada saat sahur tiba pada Ramadhan 2024. Tradisi lisan itu tenggelam di makan waktu, hanya lantunan ayat suci Alquran dengan nada tartil terdengar dari toa masjid Lr. Mustaqim, Kotafajar, Kluet utara Aceh selatan.
Suaranya tidak asing dari tahun ke tahun pada bulan Ramadhan, suara itu berasal dari Tgk. Dailami, seorang imam masjid yang sudah lama menjabat.
Udara yang dingin masuk ke dalam mesjid melalui pintu masuk yang terbuka dari sisi kanan masjid, Tgk. Dailami tampak kuat duduk di dalam masjid sendirian, untuk memberikan notifikasi sahur kepada masyarakat sambil menunggu shubuh tiba.
Dahulu biasanya, sebelum Tgk. Dailami datang untuk melanjutkan estafet membangunkan sahur melalui microphone masjid, terdapat anak-anak remaja dan pemuda yang tadarusan, dan melantunkan qasidah atau tradisi lisan pada bulan Ramadhan yang menemani pertengahan malam dan sahur.
Namun di tahun 2024 ini, hal itu tidak ditemukan lagi dari masjid Mustaqim tersebut bahkan Tgk. Dailami pun tidak berqasidah lagi seperti biasanya.
Dahulu para pemuda berkumpul tadarusan bersama di malam hari hingga sahur, mereka yang jarang terlihat di kampung karena kesibukan melanjutkan pendidikan atau bekerja di luar daerah.
Ketika berada di kampung, mereka juga ikut berkumpul, begitu juga dengan anak-anak remaja, dan orang tua, sehingga mereka menjadikan tadarus selain menambah pahala juga sebagai wadah membangun silaturrahmi di sana.
Di mana sebelum handphone dan kendaraan sepeda motor menjamur ke pendesaan Kotafajar, Kluet utara, Aceh selatan.
“Kaum muslimin dan kaum muslimat warga mustaqim dan sekitarnya, waktu imsak kurang lebih tinggal 5 menit lagi,” ujar Tgk Dailami yang terdengar dari toa masjid, kemudian ia melanjutkan dengan melantunkan ayat suci Al-Qur’an kembali.
Tidak lama kemudian, ia mengucapkan,”Shadaqallahuladzim” ayampun terdengar berkokok dan disusul dengan suara serunei tanda imsak sudah tiba, Tgk Dailami pun menghidupkan suara mengaji dari tipe recorder masjid, dan tidak lama kemudian dilanjutkan dengan adzan subuh.
Setelah adzan selesai, dilanjutkan dengan sholawat, tapi kali ini bukan berasal dari suara khas Tgk. Dailami namun berasal dari salah satu warga dusun Mustaqim lainnya, sholawat tersebut terkadang ada dan terkadang tidak, tidak seperti dahulu yang sudah menjadi laksana kewajiban.
Setelah shalat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan ceramah singkat, ceramah subuh ini sudah menjadi kebiasaan di dusun Mustaqim dan digelar berulang-ulang setiap subuh Ramadhan. Hal ini di lakukan secara bergiliran bagi orang-orang yang dipercaya mempunyai pengetahuan lebih dan ditentukan oleh panitia masjid.
Setelah ceramah shubuh disusul dengan sholawat, dan sepenggal sholawatnya berbahasa Aceh, bunyinya terdengar sebagai berikut:
Kamoe meulake ya Allah
Nebri beulepah jannah
Nebri beu kuat ibadah
Ne bri selamat kamoe lam iman
Nebri beu matee kamoe lam taat
Malam jumat buleun Ramadhan
Nebri jeuratep oh wakte suklen
Lam kubue singoeh bak jeut jawaban
Nebri di masyar ngoen ureung syhahit
Sufa’at nebri di mizan
Nebri seulamat kamoe bak titi
Sajan ngoen nabi pang ulee alam
Nebri kamoe jeb i kulam nabi
Teubuka gunci syiruga lapan
Nebri kamoe eu zat Rabbi
Yang maha suci baramzan
Setelah kewajiban shubuh usai, cahaya matahari mulai sedikit terang, para jamaah mulai pulang ke rumah masing-masing, sebagian berjalan kaki dan sebagiannya mengendarai sepeda motor.
Di sisi lain, jalan lalu lintas Kotafajar masih terlihat sepi, burung berkicau dengan merdu, dan langit mulai membiru, terlihat beberapa orang yang melakukan kegiatan asmara subuh dengan kaki telanjang yaitu berjalan kaki keliling pedesaan.
Dahulu kegiatan asmara subuh sangat populer, masa di mana kendaraan sepeda motor belum banyak seperti sekarang, biasanya jalan padat dengan orang-orang pejalan kaki baik anak-anak, remaja maupun orang tua, namun saat ini asmara subuh mulai ditinggalkan banyak orang.

Berbeda pula dengan kondisi pasar desa Kotafajar setelah subuh, para ibu-ibu sudah terlihat ramai berderetan di bawah tenda biru di pinggir jalan, mereka berjualan sayur-sayuran, dan buah-buahan seperti pisang, jambu, kelapa dan buah-buahan lainnya.
Pasar itu adalah pasar lama yang setiap harinya aktif, berbeda halnya dengan pasar baru yang terletak di belakang terminal Kotafajar, ramai hanya di hari minggu saja. Namum saat ini sedikit demi sedikit pasar baru sudah mulai ramai orang berjualan seperti warung nasi dan warung kopi.***
Tinggalkan Balasan