Krusial.com | Banda Aceh – Sabang dikenal sebagai salah satu tempat wisata terfavorit di Aceh. Selain berada di titik O nya Indonesia, Sabang memang memiliki banyak spot wisata yang eksotik.

Sebagai daerah wisata tentu tidak lengkap jika ketika berkunjung tanpa membawa pulang sesuatu untuk dinikmati atau dijadikan sebagai buah tangan. Belumlah lengkap ke Sabang jika belum mengantongi kiloan salak dan alpukat.

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang, Fakri, SE.,MAP, salak dan alpukat Sabang adalah antara produk pertanian paling diminati dan diburu wisatawan jika berkunjung kesana. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan yang signifikan dengan salak dan alpukat kebanyakan terutama dari segi cita rasa.

“Salak Sabang rasanya lebih manis dan renyah, sedangkan alpukat, dimakan mentah saja enak apalagi diolah,” ujar Fakri, Kamis (30/03/2023).

Saat ini pihaknya telah mendaftarkan salak dan alpukat tersebut sebagai varietas unggulan nasional di Kementerian Pertanian RI dan tinggal menunggu SK pelepasan varietas. Jika ini sudah ada maka sangat berpeluang untuk turut dikembangkan di daerah lain di luar Kota Sabang. Hal ini dikemukakan Fakri dalam kunjungan silaturahmi implementasi kerja sama antara Distanpang Sabang dengan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala pada Rabu (29/03/2023) kemerin.

Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Dekan FP USK tersebut Fakri berharap agar dapat berkolaborasi dengan FP USK dalam mengangkat dan mengembangkan potensi-potensi pertanian Sabang lainnya, baik melalui kegiatan akademik, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Menanggapi hal itu Dekan FP USK, Prof. Dr. Ir. Samadi, M.Sc didampingi Plt. Wakil Dekan Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan, Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc menyambut baik peluang kerja sama tersebut. Menurut Samadi, pihaknya memiliki SDM yang dapat dimanfaatkan untuk terlibat mulai dari aktivitas di hulu hingga ke hilir.

“Tentu kita berharap dapat memberi sumbangsih dari segi sharing keilmuan dan teknologi dalam rangka pengembangan produk pertanian lokal khususnya di Sabang,” ujar Samadi.

Samadi juga menyarankan agar Sabang memperkuat sektor kepariwisataannya melalui konsep agrowisata yang memadukan antara potensi keindahan alam yang natural dengan aktivitas pertanian.

“Dulu Sabang juga terkenal dengan kedondongnya. Dari sektor perkebunan, cengkeh juga menjadi komoditas utama. Jika tertata dan terintegrasi dengan konsep agrowisata tentu dapat lebih meningkatkan pendapatan ekonomi petan,” ungkap Samadi.(*)