Krusial.com — Saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) melompat 6,41% ke Rp 332 pada akhir sesi I perdagangan Jumat (7/11/2025). Saham INET laris manis ditransaksikan.
Tercatat 982,23 juta saham berkode INET diperdagangkan, frekuensi 52.898 kali, dan nilai transaksi Rp 325,48 miliar. Saham Sinergi Inti Andalan Prima diborong. Berdasarkan data pada aplikasi Stockbit Sekuritas, saham ini mencetak net buy Rp 13,9 miliar.
Saham INET menjadi sorotan sepanjang tahun berjalan (ytd) karena sudah melonjak 472% dari Rp 58 alias gocapan.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mencatat per Juni 2025, INET mencetak lonjakan penjualan 196,9% dan laba bersih 666,7% seiring efisiensi yang mendorong kenaikan operating income hingga 709,3%. Namun, arus kas operasional masih negatif (-89,6%), menandakan profit belum sepenuhnya tercermin dalam kas, sementara arus kas investasi positif (563,2%) dan pendanaan negatif besar (-6.140,1%) menunjukkan aktivitas divestasi serta pelunasan utang.
BRIDS juga mengungkapkan INET akan menjadi pengendali baru PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) setelah nanti mengakuisisi 53,57% saham milik Kopindosat. “Aksi ini membuka peluang sinergi strategis di bidang jasa outsourcing telekomunikasi dan digital, memperkuat ekspansi dan pertumbuhan bisnis di segmen internet dan teknologi ke depan,” sebut ulasan BRIDS, Jumat (7/11/2025).
Saat ulasannya BRIDS disusun harga saham INET Rp 330. Dalam sebulan terakhir, investor asing mencatat net buy Rp 56 miliar (buy Rp 336 miliar, sell Rp 280 miliar).
Menurut broker tersebut, dengan P/E 376x dibanding rerata historis 440x, valuasi masih memiliki ruang kenaikan. Mengacu pada rasio tersebut, fair value INET berada di sekitar Rp 385, mencerminkan potensi upside sekitar +17%.
Rights Issue
Sinergi Inti Andalan Prima (INET) akan menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I) alias rights issue. Perseroan menerbitkan sebanyak-sebanyaknya 12,8 miliar (57,14%) saham baru di harga pelaksanaan Rp 250/saham sehingga keseluruhannya bernilai Rp 3,2 triliun.
Dalam keterbukaan informasi diungkap pula bahwa INET secara bersamaan juga menerbitkan sebanyak 3.072.000.000 waran seri II yang menyertai saham baru atau sebanyak-banyaknya 13,71% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah PMHMETD I. Waran seri II diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi para pemegang saham baru yang melaksanakan haknya dalam PMHMETD I.
Setiap pemegang HMETD yang melaksanakan 25 saham baru perseroan dalam PMHMETD I berhak memperoleh 6 waran seri II di mana setiap 1 waran seri II memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru perseroan yang dikeluarkan dalam portepel.
Waran seri II adalah efek yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk melakukan pembelian saham biasa atas nama yang bernilai nominal Rp 10 setiap sahamnya dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 300 yang dapat dilakukan selama masa berlakunya pelaksanaan yaitu mulai tanggal 3 Juni 2026-2 Juni 2028. Total hasil pelaksanaan waran seri II sebanyak Rp 921,6 miliar.
Pengendali Jor-joran
Bahwa sehubungan dengan pelaksanaan PMHMETD I Sinergi Inti Andalan Prima (INET), sang pengendali PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN) selaku pemegang 5.360.707.200 lembar saham INET atau setara dengan 60,62% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan per tanggal 15 September 2025 menyatakan akan melaksanakan seluruh HMETD yang akan diperoleh yaitu sejumlah 7.147.609.600 HMETD yang dimilikinya dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 250 sehingga keseluruhan AKUN akan melaksanakan pelaksanaan HMETD sejumlah Rp 1,78 triliun.
AKUN juga bertindak sebagai pembeli siaga dengan jumlah saham sebanyak-banyaknya 5.652.377.067 saham pada harga pelaksanaan sebesar Rp 250 setiap saham dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp 1,41 triliun.
Dana hasil dari PMHMETD I Sinergi Inti Andalan Prima, setelah dikurangi biaya-biaya emisi akan digunakan oleh perseroan di antaranya sekitar Rp 2,8 triliun untuk melakukan penyetoran modal pada perusahaan anak yaitu PT Garuda Prima Internetindo (GPI) yang mana oleh GPI seluruh dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan jaringan FTTH (Fiber To The Home) dengan teknologi termutakhir yaitu WIFI 7 untuk 2 juta homepass yang berlokasi di Pulau Bali dan Pulau Lombok. GPI sendiri baru resmi diakuisisi INET per 19 September 2025.
Tinggalkan Balasan