Krusial.com — Harga saham 2 bank besar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), sedang murah-murahnya dengan return on equity (ROE) yang baik. Potensi cuannya terbilang besar hingga 46%.

Berdasarkan data di Stockbit Sekuritas yang diakses pada Minggu (9/8/2026), rasio PE saham BMRI saat ini (trailing twelve months/TTM) mencapai 6,3 kali. Sedangkan rasio PE (TTM) saham BBNI sebesar 6,5 kali.

BMRI dan BBNI tergolong saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), BMRI menguat 0,996 ke level Rp 4.240 dan sepekan naik 1,196. BBNI terangkat 0,2Y6 ke posisi Rp 3.630 dan sepekan terdongkrak 2,854.

BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya mempertahankan rekomendasi beli saham Bank Mandiri (BMRI). Target harga saham BMRI dipatok sebesar Rp 6.200. Ini mencerminkan potensi cuan sebesar 46,296 jika mengacu pada harga terakhir.

Target harga BMRI berdasarkan pendekatan inverse cost of eguity (inverse CoE) lima tahun sebesar 11,654. CoE merupakan tingkat imbal hasil yang disyaratkan investor atas investasi pada saham perusahaan. Perhitungan juga menggunakan asumsi pertumbuhan jangka panjang atau Iong-term growth (LTG) sebesar 344.

Target harga saham BMRI mencerminkan rasio harga terhadap nilai buku pada nilai wajar (fair value price to book value/FV PBV) sebesar 1,8 kali. Risiko terhadap pandangan ini, yaitu potensi harga minyak yang tetap tinggi dalam jangka panjang, yang dapat menekan NIM dan kualitas aset.

Pada kuartal II-2026, Bank Mandiri (BMRI) berhasil mencetak kinerja di atas ekspektasi analis. BMRI mencatatkan laba bersih Rp 15 triliun pada kuartal II2026 atau turun 296 gog, tetapi meningkat 3344 yoy.

Potensi Cuan Saham BBNI

Sementara itu, MNC Sekuritas dalam risetnya mempertahankan rekomendasi beli saham Bank Negara Indonesia (BBNI) atau BNI. Target harga saham BBNI dipatok sebesar Rp 5.100. Ini mengindikasikan potensi cuan sebesar 40,596 jika mengacu pada harga terakhir.

Target harga BBNI mengimplikasikan price to book value (PBV) sebesar 0,9 kali untuk proyeksi 2026-2027. Target tersebut juga mencerminkan asumsi pertumbuhan laba moderat, masingmasing sebesar 5,446 yoy pada 2026 dan 12,246 yoy pada 2027.

Risiko utamanya jika kondisi ekonomi makro lebih lemah dari perkiraan dan terjadi pemburukan kualitas aset. BBNI membukukan laba bersih semester I-2026 sebesar Rp 10,8 triliun atau tumbuh 6,696 yoy. Secara umum, hasil tersebut sejalan dengan ekspektasi, karena mencapai 5146 dari estimasi MNC Sekuritas 2026 dan 5196 dari estimasi konsensus 2026.***