Krusial.com — Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,10 persen atau 16 poin menjadi Rp16.266 per dolar AS.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi melihat kebijakan tarif Trump kembali memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar. Setelah Presiden AS itu mengancam akan mengenakan tarif sekunder pada Rusia hingga 100 persen.

“Trump akan mengenakan tarif 100 persen jika dalam 50 hari Presiden Vladimir Putin tidak mengakhiri perang di Ukraina. Meski tidak berdampak besar ke pasar, pelaku pasar menahan diri untuk tidak memasang taruhan besar di tengah ketidakpastian,” kata Ibrahim dalam analisisnya, Selasa (15/7/2025).

Pasar mempertimbangkan kemungkinan Trump juga mengenakan tarif tinggi pada negara-negara yang berdagang dengan Rusia. Di sisi lain, pelaku pasar menunggu data inflasi AS untuk mengetahui dampak kebijakan tarif.

“Sebelumnya Ketua The Fed, Jerome Powell mengatakan akan potensi naiknya inflasi pada musim panas ini. Sehingga bank sentral AS itu kemungkinan menunda kebijakan moneternya dalam hal suku bunga hingga akhir tahun,” ucap Ibrahim.

Pergerakan mata uang, juga dipengaruhi data perekonomian Tiongkok  yang tumbuh 5,2 persen di kuartal II-2025.  Pertumbuhannya di atas ekspektasi sebesar 5,1 persen

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati dampak tarif 32 persen yang dikenakan Trump pada Indonesia.  Salah satunya ke industri furnitur yang menjadi salah satu produk ekspor unggulan Indonesia.

Ibrahim melihat kemungkinan dampaknya pada pemutusan hubungan kerja (PHK). “Kebijakan tarif AS bisa membuat industri furniture mengalami penurunan 20 hingga 30 persen,  akibat naiknya harga produk di AS,” ujar Ibrahim.

Ia mencontohkan kursi kayu yang normalnya dijual ke pembeli AS dengan harga USD100 per unit. Dengan kenaikan tarif 32 persen, harganya bisa naik menjadi USD120-135 per unit.

“Kenaikan harga bisa membuat minat membeli produk furnitur Indonesia menurun. Kalau pesan turun akan berdampak maka pengerjaan untuk permintaan pun akan menurun,” kata Ibrahim, menutup analisisnya.***