Krusial.com – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (5/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp18.036 per dolar AS.
Penguatan tipis mata uang Garuda terjadi di tengah meningkatnya tekanan eksternal, terutama akibat perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang masih memicu ketidakpastian pasar global.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah situasi di Lebanon dan hubungan antara Iran dengan Amerika Serikat.
“Kelompok Hizbullah menolak kesepakatan yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan pemerintah Lebanon. Di sisi lain, Israel masih melanjutkan serangan di wilayah Lebanon meski terdapat kesepakatan gencatan senjata,” ujar Ibrahim, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, penghentian serangan Israel ke Lebanon juga menjadi salah satu syarat yang diajukan Iran dalam proses negosiasi dengan Amerika Serikat. Akibat belum terpenuhinya syarat tersebut, Iran disebut menghentikan proses perundingan untuk sementara waktu.
Selain faktor geopolitik, pasar juga menaruh perhatian besar terhadap rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya Non-Farm Payrolls (NFP) yang menjadi indikator penting kondisi ekonomi negara tersebut.
Ibrahim menjelaskan, data NFP bulan Mei diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 85 ribu lapangan kerja baru, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di level 4,3 persen.
“Apabila pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan pelemahan, maka hal tersebut berpotensi menekan dolar AS. Kondisi itu dapat memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” katanya.
Ia menambahkan, pelemahan dolar AS juga berpotensi mendorong kenaikan minat investor terhadap aset safe haven seperti emas.
Di dalam negeri, pelaku pasar turut mencermati revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dilakukan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
OECD memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dari sebelumnya 4,8 persen menjadi 4,7 persen. Meski demikian, lembaga tersebut memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali meningkat menjadi 5 persen pada 2027.
Menurut OECD, perlambatan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh kenaikan biaya energi serta ketidakpastian ekonomi global yang berpotensi menekan konsumsi rumah tangga dan investasi.
Selain itu, kondisi pasar tenaga kerja nasional juga diperkirakan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini.
Meski menghadapi berbagai tantangan global dan domestik, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya.
“Walaupun mengalami perlambatan, ekonomi Indonesia masih dinilai lebih resilien dibandingkan banyak negara berkembang lainnya,” ujarnya.
Pada perdagangan berikutnya, pelaku pasar diperkirakan akan tetap mencermati perkembangan geopolitik global, arah kebijakan moneter Amerika Serikat, serta berbagai indikator ekonomi yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.***
Tinggalkan Balasan