Krusial.com — Di balik riuh modernitas kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengalir tenang sungai-sungai tua yang menjadi saksi lahirnya peradaban Banjar. Dari tepian air inilah, denyut kehidupan, perdagangan, dan budaya tumbuh, membentuk jati diri kota seribu sungai itu.
“Sungai adalah ibu yang melahirkan Banjarmasin. Di sanalah perdagangan, pertemuan budaya, dan kehidupan sosial tumbuh. Sungai-sungai tua seperti Sungai Kuin, Jagabaya, Pandai, dan Keramat menjadi saksi lahirnya kota ini,” ujar Ketua Komunitas Suluh Banua, Faisal Embron, dalam program Ragam Budaya, Suluh Banua di Pro 4 RRI Banjarmasin, Minggu (12/10/2025).
Obrolan tersebut mengangkat tema “Sungai-Sungai Tua, Cikal Bakal Kota”. Sebuah refleksi bahwa kehidupan masyarakat Banjar sejak awal berakar di tepian air.
Pemerhati sejarah dan budaya Banjar, Ibrahim, menuturkan, jauh sebelum jalan-jalan darat terbentuk, sungai menjadi jalur utama mobilitas dan kehidupan. Menurutnya, sungai bukan sekadar aliran air, tetapi nadi ekonomi dan sosial masyarakat.
“Sungai dulu adalah jalan raya. Semua aktivitas manusia terjadi di tepian air, mulai dari berdagang, berinteraksi, hingga membangun tradisi,” kata Ibrahim.
Pandangan senada disampaikan Pemangku Sungai Pandai, Tumiansyah. Ia menilai, sungai bukan hanya ruang hidup, tapi juga ruang batin masyarakat Banjar. Sungai mengajarkan keseimbangan dan rasa hormat terhadap alam.
“Orang Banjar yang hidup di tepian air tahu betul bagaimana menjaga harmoni. Yakni, antara alam dan manusia,” ucapnya.
Acara Suluh Banua menjadi ajakan moral bagi masyarakat menelusuri kembali akar sejarah Banjarmasin melalui sungai-sungai tua yang mulai terlupakan. Karena, menjaga sungai, berarti menjaga ingatan dan jati diri Banua.***
Tinggalkan Balasan