Krusial | Aceh Selatan – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Aceh Selatan menggelar Kuliah Moderasi Beragama dengan mengusung tema, “FKUB Aceh Selatan Saweu Kampus Menuju Paradigma Intelektualitas Generasi Muda Yang Kooperatif dan Selektif”. Acara tersebut berlangsung di ruang aula kampus Poltas, pada Kamis, 27 Juni 2024.

Kegiatan ini berdampak positif terhadap mahasiswa untuk memahami secara luas tentang pentingnya moderasi beragama di masyarakat, dengan bhinneka tunggal ika sebagai filosofis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Direktur Politeknik Aceh Selatan Ir. Nuzuli Fitriadi, ST., MT., IPP yang dalam sambutannya diwakili oleh Wakil Direktur II Bidang Kepegawaian dan Keuangan, Ir. Resky Rusnanda, ST., MT mengatakan, saat ini Poltas menerima Beasiswa Kelapa Sawit dari Kementerian Pertanian RI melalui Dirjen Perkebunan dan hibah peralatan alat laboratorium berupa komputer dan projektor untuk mendukung proses belajar mengajar di kampus.

“Kegiatan ini mahasiswa akan mendapatkan wawasan tentang moderasi beragama, pendidikan karakter, dan memiliki tata nilai beragama yang baik,” kata Resky Rusnanda.

Lanjutnya, perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi telah memberikan berbagai kemudahan kepada masyarakat. Namun demikian, budaya asing dengan leluasa masuk ke kehidupan kita. Kemudian melemahkan sopan santun, nilai-nilai dan etika.

“Kepada mahasiswa diharapkan mampu mengikuti kegiatan ini sampai tuntas, sehingga mendapatkan masukan, perubahan mindset, bagaimana memfilter perihal negatif dari pengaruh budaya asing tersebut. Kita tetap mempertahankan nilai-nilai agama dalam kehidupan,” timpalnya.

Poltas tetap berkomitmen menciptakan lulusan yang berkualitas, berkarakter dan mampu mengembangkan daerah. Kita tidak tahu di masa depan menjadi apa, tetapi tetap optimis, belajar, tumbuh dan berkembang serta berkompetisi, tutupnya.

Kemudian Ketua FKUB Aceh Selatan Drs. Bukhari, MA dalam sambutannya mengatakan, teknologi informasi telah masuk ke seluruh pelosok negeri, sosial ekonomi masyarakat. Apakah berdampak positif dan negatif terhadap masyarakat itu sendiri.

“Aceh Selatan terdapat berbagai macam suku seperti Aceh, Kluet, Aneuk Jame, Jawa, Batak, Tionghoa dan sebagainya. Kita sudah sepakat dalam mendirikan bangsa ini bukan berdasarkan suku, tapi berlandaskan kebangsaan. Terjadinya perbedaan-perbedaan di masyarakat, mudah dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk memprovokasi masyarakat dengan berbagai kepentingan politik,” kata Bukhari.

Agama sering menjadi sarana untuk kepentingan tersebut. Agama wajib berpolitik, tapi jangan agama dipolitisir. Maka dibutuhkan toleransi yaitu saling menghargai dan menghormati orang lain, tegasnya.

“Toleransi di bidang sosial kemasyarakatan, tidak termasuk ranah akidah dan ibadah. Selanjutnya setiap informasi yang didapatkan melalui media sosial harus diseleksi dan disaring,” pungkasnya.

Panitia pelaksana kegiatan mendatangkan pemateri pakar di bidangnya yaitu bapak Tgk. Dr. Muhsin, S.Pd.I., MA dan Ustadz. H. Chairijal S. Ag. Sosialisasi moderasi beragama ini terlaksana atas kerjasama FKUB Aceh Selatan, Kesbangpol Aceh Selatan, Kemenag Aceh Selatan dan Politeknik Aceh Selatan.***