Krusial.com — Bank Indonesia melaporkan pertumbuhan penyaluran kredit untuk usaha menengah, kecil, dan mikro (UMKM) pada Juni 2025 hanya tumbuh 2,18% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Hal ini membuat penyaluran kredit perbankan secara keseluruhan tumbuh melambat ke level 7,77% (yoy) pada Juni 2025 dibanding Mei 2025 yang meningkat 8,43% (yoy).

Bambang Arianto, Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI menjelaskan penyebab utama pertumbuhan kredit di segmen UMKM melesu ialah karena adanya pelemahan kinerja korporasi dalam beberapa waktu terakhir.

Selama ini, aktivitas bisnis UMKM terkait dengan korporasi, karena UMKM bertindak sebagai salah satu penyuplai dalam rantai bisnis korporasi, baik barang maupun jasa.

“Tentu ada kaitannya dengan payungnya, yaitu korporasi. Kalau korporasi mengalami perlambatan, UMKM yang suplai ke korporasi juga akan terganggu. Dari satu korporasi, objeknya ke UMKM juga bisa jadi banyak. Jadi kalau satu korporasi melambat, UMKM bisa lebih banyak lagi yang melambat,” papar Bambang dalam Editors Briefing Bank Indonesia, dikutip Sabtu (19/7/2025).

Menurut dia, hal itu tergambar dari segmen UMKM dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) paling tinggi adalah segmen usaha menengah, yakni mencapai 5,37%. Diikuti usaha kecil 4,3%, dan segmen usaha mikro dengan NPL terendah 4,01%.

Terkait kebutuhan restrukturisasi kredit UMKM, Bambang menilai hal itu masih perlu dipertimbangkan dan dikaji oleh lintas regulator, terutama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pada dasarnya, risiko kredit UMKM meningkat, sehingga mendorong bank lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan UMKM. Hal ini menggambarkan pembiayaan inklusif masih diwarnai perlambatan.

Hal ini tercermin dari realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai penopang pertumbuhan kredit UMKM di tengah risiko kredit yang masih meningkat.

Data Bank Indonesia menunjukkan realisasi KUR pada Juni 2025 tercatat disalurkan kepada 2,3 juta debitur dengan total sebesar Rp131,84 triliun. Angka ini 45,9% dari target keseluruhan Rp287,47 triliun. Hal ini menggambarkan penyaluran KUR sampai paruh pertama tahun ini belum separuh dari target sepanjang tahun.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebutkan pertumbuhan penyaluran kredit untuk UMKM tumbuh lambat hingga Juni 2025. Ini membuat penyaluran kredit secara keseluruhan sepanjang Juni 2025 turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Kredit UMKM (tumbuh) rendah 2,18% year on year. Ke depan Bank Indonesia terus mendorong penyaluran kredit bank melalu kebijakan makroprudensial akomodatif,” kata Perry, saat memaparkan hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Rabu (16/07/2025).

Dalam paparannya Perry menjabarkan, pada Juni pertumbuhan kredit perbankan tumbuh 7,7%. Ini disebabkan karena perbankan domestik cenderung hati-hati dalam menyalurkan kredit meskipun ada peningkatan pengumpulan dana pihak ketiga (DPK).

Inilah salah satu yang menjadi pemicu BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 basispoin dari 5,5% menjadi 5,25%.

“Suku bunga Deposit Facility turun menjadi 4,5%, dan suku bunga Lending Facility turun menjadi 6%,” ungkap Perry.

Perry menjelaskan keputusan ini konsisten dengan makin rendahnya perkiraan inflasi 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, terjaganya stabilitas rupiah sesuai fundamental dan perlunya terus mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.***