Krusial | Mayapada — Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Myanmar pada Jumat lalu, telah menewaskan lebih dari 3 ribu orang. Salah satu gempa terkuat dalam satu abad Myanmar tersebut berdampak pada 28 juta penduduk.

Banyak bangunan, termasuk rumah sakit hancur, sementara ribuan orang kini kehilangan tempat tinggal. Jumlah korban tewas tercatat sebanyak 3.085 orang, dengan 4.715 lainnya terluka dan 341 masih hilang, hingga Kamis (3/4/2025).

WHO memperingatkan, meningkatnya risiko penyakit seperti kolera di wilayah yang terdampak parah, termasuk Mandalay, Sagaing, dan Naypyidaw. Untuk mengatasi krisis ini, WHO telah menyiapkan bantuan senilai USD1 juta (Rp16,5 miliar), termasuk kantong jenazah, dikutip dari Reuters.

Namun, upaya bantuan semakin sulit karena sekitar setengah dari fasilitas kesehatan di daerah terdampak mengalami kerusakan. Rumah sakit utama di Mandalay dan Naypyidaw bahkan hancur akibat gempa.

Ribuan orang masih mengungsi di tempat terbuka, karena takut kembali ke rumah mereka. Kondisi para penyintas semakin memprihatinkan, dengan suhu mencapai 38 derajat Celcius.

Para ahli memperingatkan potensi peningkatan kasus penyakit kulit, malaria, dan demam berdarah akibat lingkungan tidak higienis. Situasi ini semakin diperburuk oleh prediksi cuaca yang mengkhawatirkan.

Hujan deras yang tidak biasa diperkirakan akan turun antara 7 hingga 11 April, yang dapat memperparah kondisi di kamp-kamp pengungsian darurat. Banyak warga tinggal di tenda-tenda darurat dan di jalanan, berisiko terkena penyakit akibat lingkungan yang lembab dan tidak bersih.

Program Pembangunan PBB (UNDP) juga menyuarakan kekhawatiran bahwa hujan ini dapat mempercepat penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air. Upaya penyelamatan dan bantuan di Myanmar terus menghadapi tantangan besar, karena situasi yang semakin buruk.***