Krusial.com| Aceh Selatan – KM Dhea, boat nelayan milik Doli Hasian (34) warga Labuhanhaji, Aceh Selatan mengalami rusak berat setelah sebelumnya kandas di karang perairan setempat pada Selasa (1/11/2022).

Saiful (38) pawang boat KMP Dhea kepada Krusial.com menjelaskan kronologi kejadian kandasnya boat yang dinakhodai tersebut. Ia mengatakan pada Selasa (1/11/2022) saat hendak kembali ke dermaga boat tersebut mengalami naas akibat cuaca buruk.

” Saat kami hendak ke dermaga, tiba-tiba cuaca memburuk, waktu itu sudah malam, lampu mati, angin kencang, hujan dan berkabut, saat itu boat kami kandas di karang,” ucapnya, Sabtu (12/11/2022).

Karena faktor cuaca dan kondisi sudah gelap, akhirnya dirinya bersama ABK kembali ke darat dengan menggunakan perahu dan membawa hasil tangkapan. Keesokan harinya melaporkan kejadian tersebut kepada panglima Laot Lhoek Labuhanhaji, Said Zulkifli.

” Setelah itu kita disarankan untuk mencarikan boat penarik, namun tak ada satupun boat yang sandar di dermaga TPI Labuhanhaji yang bersedia,” bebernya saat di jumpai di TPI Labuhanhaji, Minggu (13/11/2022).

Menurutnya banyak alasan dari pemilik boat lain, sehingga akhirnya didapatkan satu boat untuk melakukan evakuasi, namun sayang saat hendak di derek boat KM Dhea mengalami patah dan bagian depan lepas dari badannya.

” Ya sekarang kami pasrah dan ikhlas, boat tersebut sudah tak bisa digunakan lagi, hanya kita selamatkan alat-alat yang bisa kita selamatkan,” ujarnya.

Sementara itu, pemilik kapal motor Dhea berkapasitas 10 GT itu, Doli Hasian, mengaku kecewa atas respon pihak-pihak terkait di Aceh Selatan. Karena menurutnya musibah yang terjadi karena faktor cuaca tersebut telah dilaporkan kepada panglima Laot setempat, dengan harapan ada tindakan penanggulangan dari pemerintah.

” Tentu kami berharap ada penanganan profesional dari pihak-pihak terkait di Aceh Selatan, namun itu semua nihil,” sesalnya.

Dirinya juga menanyakan apa fungsi dan peran dari panglima Laot dan DKP Aceh Selatan jika ada boat nelayan mengalami kecelakaan, sebab hingga 12 hari boat miliknya kandas semua upaya dan penanggulangan dilakukan secara mandiri tanpa ada kepedulian dan perhatian dari pihak terkait di Aceh Selatan itu.

” Selaku pemilik boat dan nelayan kami sangat kecewa kepada Pemerintah Aceh Selatan dan pihak-pihak terkait, tak ada langkah dan upaya apapun kepada kami yang sedang mengalami musibah,” sesalnya.

Sementara itu, Panglima Laot Lhoek Labuhanhaji Said Zulkifli mengatakan dirinya setelah mendapat informasi boat kandas tersebut telah berkoordinasi dengan pihak UPTD Kantor Pelabuhan Perikanan di Labuhanhaji.

Namun ia menjelaskan, jika panglima Laot fokus melakukan penanganan jika terjadi kecelakaan laut yang berhubungan dengan jiwa nelayan, namun jika permasalahan material itu bukan salah satu tugasnya.

” Namun kita juga telah memberikan masukan-masukan dan ikut membantu evakuasi boat tersebut,” katanya.

Saat disinggung masalah koordinasi dengan DKP atau pihak terkait lainnya Said Mukhlis mengaku bahwa hal itu yang lupa dilakukan, walaupun menurutnya insiden tersebut bukan persoalan keselamatan jiwa tapi tidak salah jika dirinya berkomunikasi dengan DKP Aceh Selatan.

” Koordinasi dengan pihak terkait lupa kami lakukan, hanya ke kantor pelabuhan ikan saja,” katanya saat diwawancarai di dermaga TPI Labuhanhaji.

Akibat insiden tersebut, pemilik KM Dhea mengalami kerugian hingga Rp. 300.000.000, pemilik kapal berharap agar pihak terkait yang ada di Aceh Selatan dapat membantunya agar dapat meneruskan aktivitas melaut.

” ABK dan pawang kami secara otomatis tidak bekerja lagi, kami mohon kepada Pemkab Aceh Selatan dan pihak-pihak terkait agar dapat membantu kami dengan program -program yang ada di pemerintah ini,” harapnya.