Krusial.com — Si jago merah kembali mengamuk di Ibu Kota Jakarta. Senin malam (1/6/2026), 304 bangunan hangus terbakar.
Menyisakan 354 kepala keluarga yang tak punya tempat tinggal, dan berdampak pada 679 jiwa warga Kemayoran.
Jumlah korban terdampak terdiri dari 326 laki-laki dan 353 perempuan. Di antara korban, terdapat 35 lansia, 90 balita, 53 anak usia sekolah dasar, enam anak usia SMP, 22 remaja usia SMK, serta 414 warga dewasa termasuk ibu hamil.
Entah kenapa, peristiwa kebakaran akrab dengan Jakarta. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, sepanjang tahun 2025 total terdapat 1.681 kejadian bencana di mana kebakaran mendominasi jumlah insiden tersebut.
Tercatat sekitar 1.195 hingga 1.437 kejadian kebakaran di wilayah Jakarta. Kebakaran menjadi bencana yang paling banyak terjadi di ibu kota.
Korsleting
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebut 95 persen penyebab kebakaran di wilayah Jakarta berasal dari korsleting atau hubungan arus pendek listrik.
“Pemprov DKI prihatin dengan kejadian ini, dan sekali lagi yang bisa kita lakukan adalah memperingatkan kepada masyarakat, yang harus pertama kali dijaga adalah listrik. Karena di Jakarta ini hampir rata-rata kebakaran terjadi karena korsleting listrik. Itu berdasarkan survei kita hampir 95 persen,” ungkap Rano usai meninjau lokasi kebakaran di Kemayoran, Selasa (2/6/2026).
Untuk membantu para korban, Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan sejumlah fasilitas di lokasi pengungsian yang berada di Lapangan Yusuf Hamka.
“Kita seperti teman-teman lihat, sudah menyiapkan posko di lapangan Yusuf Hamka ini, lengkap dengan pengungsi, ada posko kesehatan, ada dapur umum, kemudian ada posko dukungan psikologi untuk anak-anak,” kata Rano.
Dinas Sosial DKI Jakarta juga telah menyalurkan berbagai bantuan logistik, mulai dari makanan, matras, hingga bantuan sandang dan pangan bagi warga terdampak.
Anak Sekolah Terus Belajar
Siswa sekolah yang menjadi korban kebakaran di Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat akan menjalani ujian susulan.
Kebijakan ini dilakukan sebab beberapa dari mereka tidak bisa ke sekolah karena buku, seragam, hingga perlengkapan sekolah lainnya ludes terbakar.
“Tadi pagi-pagi saya berangkat dari rumah jam 6 pagi karena saya nganterin cucu ujian. Karena itu saya telepon Kepala Dinas (Pendidikan), ‘Eh anak-anakku yang kena kebakaran gimana ujiannya?’ ‘Enggak Pak, nanti bisa menyusul’. Itu kebijakan,” jelas Rano usai meninjau kebakaran di Kemayoran, Selasa.
Tidak ada gedung sekolah yang terdampak dalam peristiwa kebakaran itu. Namun, para korban yang masih sekolah tidak bisa mengikuti ujian karena barang-barangnya terbakar.
Kebijakan ujian susulan tersebut diharapkan dapat meringankan anak-anak sekolah yang menjadi korban kebakaran.
Tinggal di Rusun
Rano Karno sempat menawarkan kepada warga korban kebakaran Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat untuk pindah ke rumah susun (rusun).
Hal itu karena permukiman warga di kawasan yang terbakar itu berdiri atas lahan milik Sekretariat Negara (Setneg). Namun, Rano mengatakan warga menolak tawaran tersebut.
“Tadi saya ngomong dengan beberapa warga, ‘nggak mau coba di rumah susun?’ Aduh Bang, kita lahir di sini, Bang, bahkan yang namanya ari-ari kita ditanam di sini. Saya bilang, saya lahir di Kemayoran, di Kepu, ari-ari saya juga saya tanam di Kemayoran, masa kita mau berjubel-jubel tinggal di sini?” ujar Rano di Jakarta, Selasa.
Menurut Rano, tinggal di rumah susun dapat memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi warga dibandingkan tinggal di kawasan permukiman padat.
“Kita selalu berusaha untuk menyadarkan masyarakat bahwa bukan berarti tidak layak, tapi mungkin kalau tinggal di rumah susun jauh lebih layak,” ungkap Rano.
Mitigasi
DPRD DKI Jakarta menyoroti pentingnya sistem pencegahan (mitigasi) kebakaran di wilayah padat penduduk.
“Ini membuktikan bahwa mitigasi atau upaya pencegahan kebakaran masih lemah. Harusnya, dari kejadian sebelumnya sudah ada langkah preventif. Apalagi, ini terjadi di wilayah yang sama, jadi ini sungguh sangat memprihatinkan,” kata Legislator DPRD DKI Jakarta Riano P Ahmad di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, kejadian berulang di kawasan Pasar Jiung itu menunjukkan masih adanya kelemahan dalam sistem pengawasan dan pencegahan yang seharusnya sudah diperkuat pascainsiden kebakaran sebelumnya.
Dia pun mengaku prihatin melihat ratusan keluarga kembali menjadi korban akibat musibah yang diduga dipicu oleh penyebab yang sama.
Riano menegaskan kawasan padat penduduk, seperti Pasar Jiung seharusnya menjadi prioritas utama dalam program pencegahan kebakaran yang dijalankan pemerintah daerah.
Langkah-langkah, seperti pemetaan wilayah rawan kebakaran, edukasi masyarakat mengenai keselamatan listrik, serta pemeriksaan rutin instalasi listrik harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Kalau penyebabnya sama, artinya, sebenarnya bisa dicegah. Edukasi dan mitigasi harus diperkuat, terutama di wilayah padat yang sangat rentan. Kita bisa bikin zero accident,” ucap Riano.***
source: inilah.com
Tinggalkan Balasan