Krusial.com |Pidie Jaya – Viralnya pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pidie Jaya yang kurang baik dari rekaman video warga yang menunjukan atas tidak adanya dokter anak RSUD Pidie Jaya di media sosial menjadi menjadi perbincangan serius dari warganet.

Terkait viralnya video keluhan pelayanan di RSUD Pidie Jaya di media sosial tersebut, Direktur RSUD Pidie Jaya dr. H Fajriman menjelaskan dalam rilisenya, Kamis (25/5/2023) bahwa hal yang diviralkan tersebut tidak benar.

“Kejadian yang dikomplainkan oleh akun fb Helmi tersebut terjadi pada tanggal 24 Mei 2023, kemaren, sekitar tengah malam.”

Harapannya kepada masyarakat yang pertama kami mohon maaf apabila karena kasus ini jadi ada ketidaknyamanan, bagaimana pun RSUD Pidie Jaya itu adalah milik masyarakat kabupaten Pidie Jaya, kami-kami ini adalah pelayan bapak dan ibu sekalian sehingga kami berusaha melayani. Setiap masukan, kritik atau apapun itu kami terima agar kami bisa membangun pelayanan di RSUD ini dengan sebaik-baiknya, ucap Fajriman.

Semoga kasus ini menjadi pelajaran terbaik bagi pihak pemberi pelayanan publik terlebih Rumah Sakit yang selalu berhubungan dengan keselamatan pasien dan kenyamanan petugas menjadi prioritas pelayanan
Kronologi pasien dan kenyamanan petugas menjadi prioritas pelayanan.

Ia menerangkan kronologi pasien pada tanggal 24 Mai 2023 bayi dilahirkan melalui operasi atau seksio caesarea (SC), karena sudah mengalami tanda melahirkan dari seorang ibuk walaupun tidak cukup bulan atau prematur operasinya berjalan lancar dan berhasil melahirkan seorang bayi laki laki dengan pernapasannya spontan walaupun prematur dan berat badan 2,6 kg.

Dokter anak yang menangani bayi tersebut sudah melakukan visite dua kali pagi dan sore, saat itu kondisi bayi masih satabil, kemudian pada pukul 19.oo wib masih pada hari yang sama terjadi perburukan diamana bayi sulit bernapas, dengan kondisi seperti ini petugas NICU melaporkan ke dokter yang merawat tentang kondisi pasien, dan hasil konsul dengan dokter yang merawat di intruksikan coba koordinasi dengan Rumah Sakit lain atas kesiapan mereka menangani pasien neonatus atau bayi emergensi, ternyata hasil koordinasi, alat seperti continuous possitive airway pressure atau CIPAP untuk menunjang penanganan bayi emergensi semuanya terpakai dengan pasien emergensi lain.

Sambil menunggu konfirmasi dari rumah sakit yang mumpuni penanganan pasien bayi emergensi, petugas NICU RSUD Pidie Jaya tetap melakukan resusitasi jantung paru atau RJP secara manual, dilihat kondisi semakin memburuk, dokter yang manangani mengintruksikan kembali ke petugas NICU untuk konsul tim emergensi Rumah Sakit Pidie Jaya.

Namun setibanya tim emergensi, kondisi pasien sudah tidak mungkin tertolong lagi. Jadi kemungkinan besar bayi tersebut meninggal karena asfiksia berat atau gagal pernapasan secara adekuat.

Kita akan memanggil dokter dan petugas yang menangani kasus tersebut untuk menjelaskan lebih detail secara klinis sehingga pasien bisa meninggal.

Saya juga mengucapkan terimakasih banyak kepada semua petugas kesehatan RSUD Pidie Jaya, dengan segala kelebihan dan kekurangan kita semua pasti ingin melihat pasien yang kita rawat dapat sembuh dengan sempurna, namun Allah sudah berkehendak lain. pangkasnya.