Krusial | Jakarta — Ketua Dewan Pengurus Harian Bidang Perangkat Nasional, Yovita Bellina, menyoroti lemahnya kesiapan manufaktur dalam negeri dalam menghadapi tantangan kedaulatan digital. Ia menyebut Indonesia masih sangat bergantung pada perangkat jaringan impor.

“Barang-barang ICT kita itu belum siap mass production, belum siap secara TKDN juga. Produknya masih demo unit, masih pengujian, belum ada yang benar-benar siap,” ujarnya dalam wawancara bersama Pro3 RRI, Selasa (15/4/2025).

Menurutnya, ketergantungan pada perangkat seperti router, modem, hingga infrastruktur jaringan fiber optik luar negeri menunjukkan lemahnya kemampuan produksi lokal. “Perangkat kerasnya masih dominan dari luar. Ini tantangan besar bagi kemandirian teknologi kita,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kedaulatan digital tak hanya soal akses dan konten, tetapi juga penguasaan perangkat keras. Tanpa produksi mandiri, Indonesia tetap akan bergantung pada negara lain dalam hal infrastruktur digital.

Untuk mengatasi hal ini, Yovita mendorong pemerintah agar menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan manufaktur perangkat nasional. Ia menilai perlu ada kebijakan dan insentif yang mendukung tumbuhnya industri teknologi lokal.

“Kalau kita bisa produksi sendiri perangkat yang kita butuhkan, itu bukan hanya soal teknologi. Tapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi nasional,” kata Yovita.

Yovita berharap langkah strategis ini menjadi perhatian dalam penguatan sektor digital Indonesia ke depan. Kemandirian dalam produksi perangkat akan memperkuat ketahanan nasional di era teknologi.***