Krusial | Aceh Selatan – Peran, sikap dan karakter seorang istri memberi nilai plus dan sentuhan tersendiri dalam kehidupan sehari-hari, terlebih berkecimpung dengan masyarakat dalam mendampingi sang suami yang nota benenya seorang pejabat, publik figur maupun pengusaha sukses.

Lazim dijumpai, keluarga atau istri seorang pejabat menampakan aura kesombongan dan bertegur sapa pilih-pilih orang dan menampilkan ego kekuasaan, bahkan jarang hadir dengan senyuman. Dipastikan Hj Zulhijjah selalu bersahaja dan berbaur intens dengan siapa saja tanpa mempertontonkan dia istri seorang pejabat.

Berbahagialah seorang lelaki jika mendapat jodoh seorang wanita baik hati, peduli sesama (sosialis), soleha serta senantiasa setia dan taat kepada suami walaupun parasnya tidak semolek bidadari. Faktor itu pula yang menjadi penyemangat dan pendukung  suami meraih prestasi serta enggan berpaling untuk mendua cinta.

Puluhan tahun sudah H Darmansah, S.Pd, MM menahkodai mahligai rumah tangga bersama Hj Zulhijjah, kala itu mereka mengayuh bahtera dimulai dari titik nol selaku Pegawai Negeri Sipil (PNS) berprofesi sebagai guru di SDN Ladang Baro, kecamatan Meukek.

“Susah senang, suka duka dan berbagai dilematis menjadi pahatan kecil untuk dilalui dengan lapang dada. Istri saya tidak pernah mengeluh, apa lagi cemberut menghadapi kondisi apapun. Dia laksana permata di air yang keruh, pelita dalam kegelapan, penuntun dalam melangkah, penyemangat saat gundah gulana serta penghibur saat diterpa kesedihan,” ujar H Darmansah kepada antaran saat bertemu di kediamannya di Pasie raja, Senin (23/9/2024) malam.

Calon bupati Aceh Selatan pada Pilkada 2024 itu menyebutkan, Zulhijjah pantang menyerah, selelah apapun dan sepedih bagaimanapun, dia tetap menebar senyuman dan menyapa ramah dengan siapapun dalam melayani kepentingan masyarakat tanpa mengenal kedekatan, miskin maupun kaya. Hati dan jiwanya menyatu menyemangati kegetiran suami walaupun tidak memiliki harta benda apapun.

“Kami sudah biasa jatuh bangun, jabatan adalah amanah, harta benda merupakan singgahan sementara yang kapan saja bisa hilang seketika. Tidak ada gunanya berlaku sombong apalagi ikut campur maupun mengintervensi kebijakan suami. Sungguh luar biasa sifat dan sikap yang dimiliki,” papar Darmansah untuk maju di kontestasi Pilkada 2024.

Dengan sedikit menyembunyikan rasa malu, Darmansah mengakui, Zulhijjah benar-benar perempuan kokoh yang tidak harus dibohongi, apalagi pindah ke lain hati. Berkat dukungan, doa restu dan semangat yang dikobarkan serta rasa sabar dan rendah hati yang tinggi, dia rela menanggalkan status PNS dan meletakan jabatan suami sebagai Pj Bupati Abdya sekaligus jabatan eselon II di Provinsi Aceh.

Boleh diartikan, pengorbanan dan dukungan sang istri tidak akan disia-siakan hingga nyawa meregang badan. Tentunya, kalau sama istri mau berbohong, apalagi dengan orang lain dan rakyat. Orang-orang di sekeliling sangat memahami dan mengerti persis bagaimana tingkah laku Zulhijjah sebagai seorang Dharma Wanita, baik ketika menjadi ibu Pj bupati maupun pada jabatan sebelumnya.

“Semoga pernikahan kami dengan perempuan yang sudah teruji ini terus langgeng dan mendapat keberkahan serta dari Allah SWT. Mohon doa dan dukungan masyarakat, mudah-mudahan wanita yang saya cintai ini bisa menjadi sahabat rakyat dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat Aceh Selatan serta berhasil meraih cita-cita,” ucap Darmansah.

Mengulik biodata Darmansah, ia mengabdi sebagai tenaga fungsional guru sekolah dasar selama 12 tahun, kemudian dipromosikan dalam jabatan struktural pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Selatan.

“Sampai saat ini lambaian dan sapaan putra-putri terbaik Ladang Baro dan Meukek masih menyapa saya dengan panggilan pak guru. Di tempat tugas, kami banyak menjalin persaudaraan hingga sulit dilupakan. Sikap dan sifat seorang istri atau keluarga menjadi salah satu faktor, daya tarik dan pertimbangan masyarakat dalam memberi dukungan,” sergah Darman.

Lambat laun, didampingi istri setia Zulhijjah, perjalanan karir yang ditoreh mulai mentereng. Pasangan dua sejoli ini pun berpindah tempat tugas dari Aceh Selatan ke Pemko Subulussalam hingga merangkak ke pemerintah Provinsi Aceh.

Kontras, harmonis dan dinilai sangat serasi, H Darmansah berpasangan dengan Sudirman (IDAMAN) penyandang nomor urut satu (1) calon bupati/wakil bupati Aceh Selatan memiliki kemiripan sifat dan karakter kedua istri mereka. Istri Sudirman yakni Fitria Lisa kelahiran tahun 1990 adalah putri Zubir moto dan cucu dari Keuchik H Nyadin yang sangat dikenali di Kluet Utara.

Warga Kluet mengenal Fitria Lisa sebagai wanita bersahaja, penyabar, ramah, selalu berbaur dan bersilaturahmi dengan masyarakat. Dua sosok perempuan (Hj Zulhijjah dan Fitria Lisa) ini menjadi penyemangat dan memantik dukungan dari lapisan simpatisan dalam perjuangan pemenangan di Pilkada Aceh Selatan.

“Saya menilai Fitia Lisa itu orangnya baik, tidak sombong dan ramah dengan masyarakat. Sebagai orang kecil, ia sangat menyadari makna persaudaraan dan tidak membuat orang-orang tersinggung. Antara Zulhijjah dan Fitria Lisa memiliki kesamaan dan sepak terjang mulia di mata publik,” beber Rahmin salah seorang relawan Srikandi IDAMAN di Kluet Utara.

Perpaduan istri birokrasi dengan mantan anggota KPA serta tokoh masyarakat Kluet ini, sambung Rahmin, laksanakan dipertemukan dalam lingkaran perjodohan untuk mendukung sang suami maju sebagai calon bupati/wakil bupati.

Menurut Rahmin, istri Pak Darmansah dan Mamak Sudir bisa menjadi sahabat bagi kaum perempuan, tempat curahan hati kaum ibu-ibu dengan berkomunikasi dengan mudah serta menjadi teman semua kalangan. Yakinlah oleh semua kita, sifat dan karakter yang dimiliki kedua wanita itu tidak mudah dijumpai pada orang-orang besar di zaman serba canggih ini.

“Iya, selain menarik simpati kepada Darmandah-Sudirman sebagai calon bupati/wakil bupati, faktor istri dan keluarga juga mempengaruhi image masyarakat untuk memilih kandidat pimpinan daerah. Kalau Zulhijjah memang sudah teruji dan belum ada barisan sakit hati selama mendampingi suami di tempat tugas,” tambah Rahmin.

Mudah-mudahan sikap yang dimiliki kedua wanita ini menjadi modal bagi masyarakat serta tidak akan berubah selama-selamanya. “Seperti orang-orang bilang, tidak kenal maka tak sayang, apalagi berpenampilan sombong dan jarang bergaul dengan warga, tentu rasa familiar akan jauh panggang dari api,” cetusnya.

Sementara itu, Zulhijjah, perempuan kelahiran 1974 di Gampong Ladang Teungoh, Pasie raja ini mengaku dirinya bukan siapa-siapa, banyak kelemahan dan kekurangan. Namun, hidup ini diusahakan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

“Kami butuh masyarakat, sebab kita bisa dan besar karena masyarakat. Suatu saat masyarakat membutuhkan kita. Maka sudah sepatutnya jangan melupakan masyarakat ketika berada di puncak,” ucap Zulhijjah.

Atas dorongan, dukungan simpatisan, keinginan tokoh masyarakat dan para ulama, kami mempertimbangkan secara matang keinginan ayah anak-anak maju sebagai kandidat bupati Aceh Selatan. Akhirnya, kami siap, tulus dan ikhlas serta merestui perjuangan ini sebagai sebuah anugerah.

“Sebagai manusia biasa, kami senantiasa berserah diri, memohon ampunan serta berdoa kepada Allah. Apabila aspirasi masyarakat ini salah satu jalan terbaik untuk kami dan masyarakat, maka berilah kemudahan, muluskanlah perjuangan dan kabulkan ya Allah. Tetapi bila mendatangkan kemudharatan, hendaknya berilah kami petunjuk,” tutup Zulhijjah.***