Krusial.com | Banda Aceh – Maraknya pelanggaran syariat islam di Banda Aceh di bawah kepemimpinan Pj Walikota Bakri Siddiq merupakan hal yang sangat memilukan. Salah satu penyebab utamanya adalah longgarnya pengawasan dari Pemko yang menunjukkan lemahnya komitmen orang nomor satu di Banda Aceh itu.

“Kita bisa lihat pembiaran-pembiaran yang terjadi di masa kepemimpinan Bakri Siddiq, bahkan kejadian pesta ria wanita di kawasan Ulee Lhee yang sempat diamankan lalu dilepaskan begitu saja dengan dalih negatif ketika dilakukan test uris keesokan harinya hal itu masih terekam di pikiran masyarakat. Belum lagi pergaulan bebas juga semakin mengkhawatirkan di Ibukota Provinsi Aceh ini,” kata Koordinator Gerakakan Mahasiswa dan Pemuda untuk Rakyat (GeMPUR) Asrinaldi Sabtu (10/06/2023).

Bahkan, kata Asrinaldi, hancurnya penegakan Syariat Islam di Banda Aceh juga di akui oleh politisi PKS yang juga ketua DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar.

“Ketua DPRK Banda Aceh sendiri di media mengakui selama ini penegakan syariat Islam di Kota Banda Aceh mulai longgar. Hal itu dapat dilihat dari informasi maupun progres kegiatan penegakan syariat Islam,” jelasnya.

Namun, lanjut Asrinaldi, apakah pernyataan Farid Nyak Umar itu bentuk kepeduliannya terhadap penegakan syariat islam yang semakin hancur pada masa kepemimpinan Bakri Siddiq atau hanya sebatas cari empati masyarakat jelang pemilu saja, itu bisa dibuktikan sendiri oleh masyarakat.

“Jika iya, maka PKS tentunya akan kecam keras dan bahkan sah-sah saja turut menolak dalam pengusulan Bakri Siddiq nantinya. Jika hanya sebatas pencitraan maka juga nanti bisa dinilai sendiri oleh masyarakat. Kita berharap ketua DPRK kita itu cakapnya serupa bikin,” kata Asrinaldi.

Memang pada dasarnya yang dikatakan ketua DPRK terkait longgarnya penegakan syariat islam di bawah kepemimpinan Bakri Siddiq itu ada betulnya, tetapi hal yang lebih penting bagaimana seorang DPRK dengan kekuasaannya mampu bertindak dan bersikap terhadap kepemimpinan saat ini, silahkan masyarakat nanti menilainya.

“Sungguh memilukan, salah satu efek dari pergaulan bebas hingga homo seksual yang semakin memprihatinkan di Banda Aceh itu yakni peningkatan secara signifikan kasus HIV /Aids. Bayangkan saja, berdasarkan data pada februari 2023 kasus HIV/ AIDS di Banda Aceh itu sudah mencapai 198 kasus. Walaupun kasus HIV/AIDS di Banda Aceh pertama sekali ditemukan pada 2008 dengan diagnosa AIDS sebanyak dua kasus dan telah meninggal dunia, dan setelah itu tak lebih dari 10 kasus tiap tahunnya. Namun, kemudian pada 2022 di saat Bakri memimpin justru menempatkan Kota Banda Aceh pada urutan pertama dari kabupaten/kota se-Aceh dengan kasus HIV/AIDS yang tertinggi,” ujarnya

Dia mengatakan, masyarakat saat ini tentunya sudah cerdas. Mana yang benar-benar komit dalam penegakan syariat dan mana yang hanya sebatas jualan belaka.

“Inikan sudah jelas Bakri Siddiq terbukti gagal dalam penegakan syariat islam, walaupun Aceh memiliki kekhususan di bidang syariat islam. Masyarakat bisa lihat partai mana saja di DPRK yang bakal mengusul kembali Bakri Siddiq untuk Pj Walikota setelah terbukti membiarkan dan melonggarkan syariat islam. Intinya bisa disimpulkan bahwa partai atau anggota dprk yang dukung perpanjangan Bakri Siddiq lebih mementingkan urusan pribadinya daripada penegakan syariat islam. Kami imbau masyarakat ayo sama-sama kita pantau, sehingga nanti kita bisa lihat partai atau dewan yang komit dengan yang hanya sebatas nualan politiknya, disitu masyarakat bisa menentukan pilihannya pada lemilu mendatang,” katanya.

Terakhir, pihaknya mengingatkan dewan kota Banda Aceh tentang surat Al Asshaf ayat 2 dan 3.

“Yā ayyuhallażīna āmanụ lima taqụlụna mā lā taf’alụn. Kabura maqtan ‘indallāhi an taqụlụ mā lā taf’alụn. Yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan,” jelasnya.