Krusial | Jakarta – Bank-bank sentral di seluruh Asia tengah menggunakan derivatif untuk melindungi mata uang lokal dari pelemahan. Sebab dolar Amerika Serikat menguat usai kebijakan moneter, tarif, dan permintaan global meningkat.

Net short book, jumlah dolar yang akan dijual di masa depan dengan harga yang telah ditentukan, Bank Indonesia mencapai US$19,6 miliar. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sejak satu dekade lalu.

Forward book yang membesar menunjukkan pergeseran strategi di antara bank-bank sentral yang melakukan intervensi demi mempertahankan mata uang mereka.

Oleh karenanya, penggunaan derivatif untuk menekan dolar meningkatkan risiko tekanan jual ditangguhkan, bukan dihilangkan. Hal ini akan menimbulkan risiko di masa depan.

“Saya sedikit khawatir dengan skenario tersebut. Pada dasarnya ini mendorong depresiasi mata uang pada kemudian hari, di saat yang sama, ini menjaga cadangan devisa tetap tinggi sebagai cara untuk menunjukkan kepercayaan diri,” kata Ahli Strategi Mata Uang Australia and New Zealand Banking Group Dhiraj Nim.

Sebagai informasi, Rupiah menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di Asia, usai jatuh 1,7% ke Rp16.357 per dolar AS minggu lalu. Namun mata uang tersebut berhasil bangkit dan dibuka menguat 0,41% atau 66,5 poin ke level Rp16.184,5, pada Senin (17/2/2025).