Krusial.com | Aceh Selatan – Masyarakat Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan mulai mengkhawatirkan populasi ikan Keureling (Tor tambroides) di Sungai Manggamat semakin berkurang. Masyarakat menduga hal tersebut terjadi akibat pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT. Beri Mineral Utama (BMU) yang beroperasi di Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan.

Air sungai di Manggamat yang keruh dan tercemar akibat limbah penambangan emas yang dibuang langsung ke sungai. Foto: Dok. Masyarakat Manggamat

Salah seorang warga Manggamat, Sutrisno mengatakan, keberadaan ikan Keureling sudah sangat sulit didapatkan semenjak PT. BMU melakukan aktivitas tambang emas dan berdampak merusak lingkungan.

Ia menduga kerusakan tersebut disebabkan oleh limbah tambang emas yang dibuang langsung ke Sungai Manggamat.

“Sekarang sangat sulit mendapatkan ikan Keureling di Sungai Manggamat,” kata Sutrisno dalam konferensi pers di Banda Aceh, pada 6 September 2023.

Lanjutnya, dalam dua tahun terakhir Sutrisno mengungkapkan kerap menemukan ikan-ikan yang berada di Sungai Manggamat mati terapung. Ia menduga akibat pencemaran yang dilakukan PT. BMU.

“Dulu kami tidak tahu penyebab ikan-ikan tersebut mati, tapi sekarang kami sadar ternyata bahaya limbah dari PT itu sangat beracun bagi masyarakat dan ikan-ikan di Sungai Manggamat,” ungkapnya.

Ia menceritakan, dulu nelayan disana sering mendapatkan ikan Keureling dalam ukuran besar, yang kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Perubahan kondisi air yang bercampur lumpur menyebabkan keberadaan ikan Keureling terganggu, dan hanya ditemukan jenis ikan Mujair dan Nila.

“Kami menduga perendaman emas yang dilakukan PT BMU dengan cara membuang limbah ke sungai Manggamat telah merusak lingkungan Manggamat,” tutur Sutrisno.

Dosen Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala (USK), Ilham Zulfahmi, menjelaskan, ikan Keureling merupakan salah satu jenis ikan yang sensitif terhadap perubahan lingkungan.

“Keberadaan Ikan Keureling dapat dijadikan sebagai biota indikator untuk menilai kesehatan sungai secara ekologis,” kata Ilham, Sabtu (10/9/2023).

Lebih jelas ia mengatakan, ikan Keureling terutama pada fase remaja dan anakan, hidup pada air deras dengan kandungan oksigen yang tinggi.

“Adanya aktivitas pertambangan yang membuang limbah ke sungai dapat mengganggu hidrodinamika sungai serta menurunkan kandungan oksigen yang berdampak pada semakin sulitnya ditemukan ikan Keureling,” tuturnya.

Menurut penelitian yang dilakukan Ilham Zulfahmi, ikan Keureling merupakan salah satu ikan air tawar terbesar di Aceh.

Umumnya ikan ini mendiami sungai berarus deras dan tidak hidup di air berlumpur. International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan ikan Keureling sebagai biota yang terancam punah dan berada dalam daftar merah (Red List).