Peradaban Islam modern adalah sesuatu hal yang berkaitan dengan dinamika perkembangan Islam di tengah transformasi global yang ditandai dengan politik, kebudayaan modern, teknologi hingga ekonomi.

Meskipun peradaban Islam modern banyak berkembang, namun tetap berpegang pada nilai-nilai dan ajaran Al-Quran dan Hadits. Sejak dulu, peradaban Islam telah menunjukkan taringnya kepada dunia. Mulai dari seni, musik, hingga sastra Islam telah dikonfirmasi kejeniusannya oleh global.

Mengutip pandangan Hasan Al-Bana dalam bukunya (dalam bahasa Indonesia) berjudul Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin jilid II, Islam adalah sistem universal yang menyentuh seluruh lini kehidupan.

Menurut Hasan Al-Bana, Islam merupakan akhlak, kasih sayang, kekuatan, bangsa dan tanah air, ilmu serta sumber daya alam, sebagaimana aqidah yang bersih dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.

Selain itu, Islam ialah agama yang tidak mengabaikan sains. Hal tersebut bisa kita amati bagaimana Islam menghasilkan sejumlah ilmuwan yang menguasai beberapa bidang.

Sebut saja seperti Ibnu Sina dalam dunia kedokteran, Muhammad bin Musa Al Khawarizmi dalam perkembangan ilmu matematika, dan Ibnu Al-Haitsam dalam ilmu astronomi serta farmakologi.***

(Muhammad Malik Qarafi Sihite)

Pada periode pertengahan (1258-1800 Masehi), Islam mengalami dekadensi baik dalam lingkup politik, perdagangan, kebudayaan, dan teknologi. Sehingga sudah sepatutnya periode Islam modern menjadi momentum kebangkitan kaum muslim.

Namun sampai hari ini, banyak oknum berkedok ustadz dan ulama justru menyebarkan ajaran menyimpang dan keliru.

Akibatnya, kebodohan dan kejumudan dalam berpikir merajalela sehingga standar kebenaran yang berlaku dimanipulasi oleh mereka yang memiliki banyak pengikut di jagad media sosial.

Demistifikasi Islam

Demistifikasi Islam secara terminologi ialah proses untuk menguak kesalahpahaman dan upaya untuk mengimbangi asumsi serta perspektif yang irasional.

Demistifikasi merupakan gagasan yang lahir dari polemik kaum muslim yang acap terjebak pada mistifikasi.

Maraknya mistifikasi, membuat Islam yang sebetulnya menuntun umat menuju keselamatan dunia dan akhirat, berpaling menjadi agama yang sekedar mementingkan akhirat dan menghiraukan dunia.

Fenomena mistifikasi Islam juga bagian sarana eksploitasi dari kaum elite untuk melanggengkan pembodohan terhadap kaum marjinal dengan cara memanipulasi ambisi-ambisi akhirat sebagai senjata untuk menggiring kepada kesesatan.

Isu-isu agama dieksploitasi sedemikian rupa untuk menyuburkan identitas yang berbeda, seolah-olah mereka (para oknum) juru kunci kebenaran.

Sementara umat yang bukan golongannya dituding sesat bahkan tidak beriman. Jika kita telisik lebih dalam, Islam sejatinya menghadirkan cahaya di tengah kegelapan.

Membebaskan manusia dari jeratan perbudakan dan penindasan sehingga ketaqwaan-lah yang menjadi pembeda.

Berikut uraian beberapa gagasan yang penulis tawarkan dalam menjawab problematika diatas.

Mewujudkan Kaum Muslim Modern Menuju Masyarakat Madani

Pada dasarnya, tiap perubahan semestinya dimulai dari diri sendiri. Pembentukan individu Muslim sejati dimulai dari pikiran dan hatinya.

Seorang Muslim harus memiliki aqidah yang bersih dan lurus. Aqidah islamiyyah yang bersih dari syirik, khurofat, takhayul dan bidah merupakan bagian fundamental yang perlu dimantapkan pribadi seorang Muslim demi terwujudnya masyarakat madani.

Selanjutnya yaitu ibadah yang sesuai dengan sunnah shohihah yang jauh dari bidah dan tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah pondasi kedua yang perlu ditanamkan oleh seorang Muslim sejati.

Ketiga yakni pemantapan akhlak yang mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW. Meneladani bagaimana akhlak Rasulullah SAW terhadap keluarga, sahabat, dan seluruh ummat muslimin.

Keempat, seorang muslim hendaknya menjaga kesehatan dan kebugaran jasmani. Adapun kesehatan yang dimaksud mencakup jasmani, rohani dan mental.

Gaya hidup sehat seperti menjauhi alkohol, narkoba dan rokok adalah salah satu bentuk cara menjaga kesehatan fisik dan pikiran yang baik. Pembinaan spiritual yang baik menjadi sarana kesehatan mental individu dan komunal.

Tak hanya itu, masyarakat perlu meningkatkan intelektualitas dan pembelajaran baik secara umum dan individu.

Pembelajaran tidak hanya di sekolah, namun juga bisa dilakukan secara mandiri dengan membaca buku dan media massa yang semakin mudah diakses di era digital ini. Membaca merupakan jendela dunia dan teman yang tidak pernah mengkhianati adalah buku.

Pembangunan masyarakat madani tidak lepas dari perjuangan individu Muslim untuk mengendalikan hawa nafsu dan bisikan syaitan terhadap dirinya.

Pengendalian hawa nafsu menjadi kunci peningkatan pribadi muslim yang lebih baik. Setelah seorang muslim mampu mengendalikan hawa nafsunya, dia perlu disiplin dalam mengatur dan memanfaatkan waktu.

Imam Syafii mengatakan Surah Al-Asr (Waktu) adalah intisari dari Al Quran yang menunjukkan betapa pentingnya waktu.

الوقت كالسيف. إن لم تقطعه يقطعك.

“Waktu bagaikan pedang, jika kau tidak menebaskannya, maka ia akan menebasmu”.

Pandai mengatur waktu merupakan kunci dalam manajemen diri dan pekerjaan secara baik.

Sementara itu, prioritas adalah kunci dalam mengurus urusan domestik dan “internasional” yang baik. Imam Al Ghazali mengatur skala prioritas Muslim menjadi beberapa hal yaitu menjaga agama dan nyawa, akal dan harta, keturunan hingga kehormatan.

Kepentingan jangka pendek dan jangka panjang hendaknya dirancang secara proporsional (tawazun). Mandiri secara finansial sehingga tidak kurang, baik kalau berlebih namun tidak berfoya-foya.

Bagian terakhir, seorang Muslim haruslah bermanfaat untuk orang lain.

Allah SWT berfirman dalam surat As-Shaff : 11

تؤمنون بالله و رسوله و تجاهدون في سبيل الله بأموالكم و أنفسكم ذالكم خير لكم إن كنتم تعلمون

Bermanfaat tidaklah mesti dengan harta, namun juga dengan ilmu dan kebermanfaatan lainnya.

Dalam Hadits dijelaskan:

خير الناس أنفعهم للناس

“Sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat bagi orang lain.”

Tidak ada manusia yang sempurna, kecuali Rasulullah SAW yang merupakan tauladan bagi seluruh umat.

Selain itu, Islam adalah ajaran yang sempurna dan kita (umat) hendaknya mengejar kesempurnaan tersebut.