Krusial.com — Di tengah gegap gempita rutinitas kota, secercah ketenangan menyeruak dari jantung ibu kota. Pagi itu, ballroom Kuningan City menjelma menjadi ruang batin kolektif.

Hening, hangat, dan penuh khidmat. Enam agama hadir, berdiri sejajar, menundukkan kepala dalam satu tarikan napas spiritual, doa untuk Indonesia.

Acara bertajuk “Indonesia Berdoa: Doa Lintas Agama” ini digelar oleh Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS). Menandai satu tahun perjalanan mereka merajut harmoni. 

Di bawah naungan 84 organisasi masyarakat, FORMAS menghadirkan momen sederhana namun sarat makna. Sebuah pelukan damai lintas iman di tengah riuhnya zaman.

Ketua Panitia, Serian Wijatno, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar peringatan ulang tahun. Acara ini sebagai panggilan nurani bagi bangsa yang tengah diuji oleh berbagai perbedaan.

“Doa adalah titik awal kebangkitan bangsa dan kolaborasi bukan hanya tentang bekerja bersama, tetapi tentang bersama-sama menegakkan keadilan,” tegas Serian. Ucapannya menggema, disambut tatapan teduh ratusan hadirin yang larut dalam suasana spiritual.

Serian berharap, acara ini jadi langkah kecil yang membawa harapan besar buat Indonesia yang makin guyub dan adil. Ia mengajak semua orang buat nggak cuma berdoa lewat kata, tapi juga nunjukin lewat tindakan dan semangat saling jaga.

Merajut Persaudaraan, Menjaga Cinta Bangsa

Ketua Umum FORMAS, Handoyo Budhisedjati, memulai sambutannya dengan refleksi sederhana tentang arti persaudaraan. Ia menyebut doa bersama bukan hal simbolik, melainkan cermin kesadaran baru untuk menjaga persatuan bangsa.

Handoyo menuturkan, dampak perang, krisis ekonomi, dan ketimpangan sosial kini benar-benar dirasakan oleh masyarakat kecil. Karena itu, FORMAS memilih langkah yang tenang tapi bermakna, tidak hanya bersuara, tapi juga berdoa, berharap kekuatan moral bangsa lahir dari kesadaran kolektif.

“Bahwa berdoa bukan tanda menyerah, melainkan bentuk tertinggi dari perjuangan yang beradab,” ujarnya, menekankan bahwa doa adalah cara untuk menumbuhkan harapan dan kesadaran bersama di tengah tantangan.

Lebih dari itu, FORMAS bergerak melalui empat program sosial: peduli pendidikan, peduli anak sekolah, peduli uang rakyat, dan peduli tradisi nusantara. Keempat gerakan ini menjadi nafas organisasi, menanamkan cinta damai, keadilan, dan pelestarian budaya dalam kehidupan masyarakat.

Handoyo menekankan, organisasi ini ingin menjadi mitra strategis pemerintah, membuka jalur komunikasi yang jujur, terbuka, dan penuh etika. Tujuannya jelas: memastikan suara rakyat tersampaikan dengan cara bermartabat, bukan sekadar retorika.

Tekankan Persatuan dan Kebahagiaan Rakyat Indonesia

Ketua Pembina FORMAS, Hashim Djojohadikusumo mengingatkan bahwa kedamaian dan kerukunan adalah dasar agar bangsa bisa maju bersama. “Keadaan bangsa, tidak semua sempurna, tapi kita on the right track, tujuannya kita mulia, Indonesia sejahtera,” ujarnya.

Ia menyoroti tantangan zaman modern, terutama penyebaran hoaks yang bisa membingungkan masyarakat. “Kita sudah tahu, sebagian news atau opini di dalam dunia maya, itu palsu, itu hoaks, fitnah,” katanya dengan nada tegas.

Bagi Hashim, kebahagiaan rakyat adalah tolok ukur sejati dari kemajuan bangsa. “Tujuannya untuk apa? Indonesia Abadi,” ujarnya.

 

Hashim menekankan pentingnya persatuan agar Indonesia tetap utuh dan kuat. Jika rakyat tidak bahagia, kata Hashim, bangsa bisa terpecah dan kehilangan arah yang jelas.

Hashim mengajak semua pihak untuk berperan aktif membangun kesadaran kolektif. Dengan menjaga kedamaian, menangkal hoaks, dan memperhatikan kesejahteraan rakyat, Indonesia bisa tumbuh menjadi bangsa yang bahagia dan berkelanjutan.

Berkontemplasi dan Cinta: Kunci Indonesia Damai Sejahtera

Ketika Menteri Agama, Nasaruddin Umar, naik ke podium, suasana ruangan berubah hening. Nasaruddin membuka sambutan dengan mengajak semua yang hadir untuk berkontemplasi, menekankan bahwa bangsa ini tidak cukup hanya mengedepankan konsentrasi. 

“Mengingatkan kita bahwa bangsa ini harus meniru apa yang pernah dilakukan 4.500 tahun nenek moyang kita terdahulu. Mempertahankan hidupnya dengan mengkombinasikan konsentrasi dan kontemplasi,”ucapnya menegaskan.

Nasaruddin juga menyoroti perlunya kurikulum cinta yang mendidik generasi untuk menghormati perbedaan dan menghindari kebencian. Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah lukisan Tuhan yang indah, dan setiap perbedaan seharusnya menjadi harmoni, bukan perpecahan.

Menteri Agama memuji berbagai program sosial yang telah dijalankan Indonesia, seperti makanan bergizi gratis dan sekolah rakyat yang mendukung anak-anak dari keluarga kurang mampu. Ia mengajak semua untuk bersyukur atas nikmat tersebut, sekaligus sadar bahwa banyak negara lain menghadapi kesulitan ekstrem yang jauh lebih berat.

Di akhir, Nasaruddin mengimbau agar tempat berdoa diperbanyak, karena kedekatan manusia dengan Tuhan meningkatkan kesadaran diri dan kesejahteraan bangsa. Ia menekankan pentingnya terus menjaga hubungan dengan Tuhan masing-masing agar selamat di dunia dan akhirat.

Cinta Bangsa dari Ruang Hati Rakyat

Linda Bangon, masyarakat sekaligus panitia, menceritakan bagaimana kegiatan doa lintas agama digagas untuk merespons situasi Indonesia yang dirasa ‘tidak baik’. Kegiatan ini dirancang untuk menghadirkan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

“Karena ini lintas agama sebenarnya, jadi ini kemarin inisiatif karena negara ini kan ‘nggak baik-baik’ saja ya. Jadi kita adakan doa bersama, lintas agama, untuk kesejahteraan, kedamaian negara kita Indonesia, tercinta,” ujarnya dengan lembut.

Linda menekankan doa bersama juga membangun semangat kolaborasi antar umat beragama, menghadirkan harmoni di tengah perbedaan. Linda berharap kegiatan ini menjadi tradisi yang memperkuat persatuan bangsa.

Harapan besar lainnya adalah mengikis intoleransi dan menegaskan bahwa semua agama memiliki peran setara di Indonesia. “Jadi di sini kita bersatu, bahwa kita itu satu-satu dalam hal itu satu kesatuan di negara Indonesia tercinta,” ucapnya.

Refleksi di Akhir Doa

Ketika doa enam agama selesai bergema, suasana ruang berubah menjadi tenang. Para tokoh lintas iman berdiri berdampingan dengan wajah teduh.

Deklarasi Cinta Bangsa dibacakan bersama, dipimpin Menteri Agama dan para tokoh serta Ketua Panitia. Kalimat demi kalimat diucapkan dengan lantang dan diulangi oleh tamu undangan, seolah meneguhkan kembali janji setia kepada tanah air.

‘Indonesia Berdoa’ menutup hari itu dengan rasa haru dan syukur. Tidak ada perbedaan, tidak ada jarak, hanya rasa persaudaraan yang menghangatkan setiap jiwa yang hadir.

Acara ini bukan sekadar simbol kebersamaan, tetapi pengingat bahwa bangsa ini masih punya ruang untuk berdoa. Dalam doa itu, harapan tumbuh, dan dari harapan itu, lahir kekuatan untuk terus mencintai Indonesia.***