Matahari sore mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga di langit kampung. Arini duduk di dipan bambu teras rumahnya, menatap celengan tanah liat berbentuk ayam di pangkuannya.
Di dalam celengan itu tersimpan jerih payahnya selama setahun terakhir dari hasil mencuci dan menyetrika pakaian tetangga.
Tiga hari lagi Hari Raya Idul Adha tiba. Sejak tahun lalu, Arini sudah membulatkan tekad. Ia ingin membelikan seekor kambing kurban atas nama Emak.
Sepanjang hidupnya, Emak yang kini menjanda dan mulai sakit-sakitan, belum pernah sekalipun berkurban. Setiap Idul Adha tiba, Emak hanya tersenyum haru menerima kantong plastik berisi daging kurban dari pengurus masjid.
“Semoga suatu hari nanti, Emak bisa yang memberi, bukan cuma menerima,” bisik Emak lirih kala itu.
Kalimat itu terus terngiang di telinga Arini.
Dengan tangan gemetar, Arini memecahkan celengan itu.
Prang!
Kepingan uang koin dan lembaran uang belasan ribu berserakan di lantai. Setelah dihitung dengan teliti, jumlahnya mencapai Rp1,5 juta.
Arini menghela napas panjang. Kemarin, ia sempat bertanya ke pasar hewan. Harga kambing paling murah berukuran sedang sudah mencapai Rp1,7 juta. Uangnya masih kurang Rp200 ribu.
Kebingungan melanda hatinya. Ia tidak mungkin meminta kekurangan itu kepada Emak.
Keesokan paginya, dengan langkah penuh harap dan doa, Arini nekat pergi ke tempat penjualan hewan kurban milik Pak Sodik.
Di sana, ratusan kambing berjejer. Arini mendekati sudut kandang, tempat kambing-kambing berukuran kecil berada.
“Silakan, Neng. Cari kambing yang mana?” sapa Pak Sodik ramah.
“Pak, kalau kambing yang di pojok itu harganya berapa?” tanya Arini ragu, menunjuk seekor kambing jantan berbulu putih bercampur hitam.
“Oh, yang itu harganya Rp1,7 juta, Neng. Pasnya Rp1,6 juta deh buat Neng, Bapak kurangi untungnya,” jawab Pak Sodik.
Arini menunduk, meremas dompet kainnya.
“Pak… kalau boleh, saya tawar Rp1,5 juta? Uang tabungan saya cuma segini. Ini untuk kurban Emak saya, Pak. Beliau sudah tua dan sakit-sakitan. Beliau ingin sekali berkurban tahun ini,” ucap Arini dengan suara bergetar menahan tangis.
Pak Sodik terdiam.
Nominal Rp1,5 juta sebenarnya hanya modal pas-pasan baginya, nyaris tanpa keuntungan. Namun, melihat ketulusan di mata Arini, hati pedagang itu luluh. Ada rasa haru yang menjalar di dadanya.
“Ya sudah, Neng,” ucap Pak Sodik sambil tersenyum hangat. “Bapak lepas kambing ini Rp1,5 juta untuk Emak kamu. Anggap saja Bapak ikut mencari berkah dari niat muliamu.”
Mata Arini seketika berbinar. Air mata bahagianya jatuh tanpa bisa dibendung.
“Benar, Pak? Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Pak. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak.”
Sore harinya, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan rumah kayu milik Emak. Pak Sodik sendiri yang mengantarkan kambing tersebut.
Emak yang sedang menjahit baju robek di ruang tamu keluar dengan langkah tertatih menggunakan tongkat kayunya.
“Ini ada apa, Arini? Kambing siapa ini?” tanya Emak bingung melihat seekor kambing diturunkan di halaman rumah.
Arini mendekati Emak, menggenggam kedua tangan tua yang sudah keriput itu, lalu menciumnya dengan takzim.
“Mak, ini kambing kurban untuk Emak besok,” bisik Arini lirih dengan suara tercekat. “Ini hasil tabungan Arini. Tahun ini, nama Emak yang akan disebut di masjid saat penyembelihan.”
Emak terpaku. Matanya menatap kambing di halaman, lalu beralih menatap anak perempuan semata wayangnya.
Air mata perlahan mengalir membasahi pipi tua Emak. Ia langsung memeluk Arini erat-erat.
“Ya Allah… Terima kasih, Nak. Terima kasih,” tutur Emak menangis tersedu-sedu di pundak Arini. “Emak tidak menyangka, di sisa umur Emak, akhirnya Emak bisa ikut berkurban.”
Pak Sodik yang menyaksikan momen itu diam-diam menyeka sudut matanya.
Di sore yang tenang itu, kebahagiaan besar menyeruak di rumah kayu sederhana tersebut.
Sebuah pengorbanan kecil dari seorang anak telah mewujudkan impian terbesar dalam hidup sang ibu.
Pesan Moral:
Kurban bukan hanya tentang hewan yang disembelih, tetapi juga tentang ketulusan, pengorbanan, dan cinta yang diberikan dengan sepenuh hati.
Tinggalkan Balasan