Krusial.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan pada Mei 2025 yang tercatat sebesar 1,60 persen.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengatakan inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil sebesar 1,43 persen dengan tingkat inflasi mencapai 4,94 persen.

“Inflasi tahunan kelompok makanan, minuman, dan tembakau utamanya didorong oleh kenaikan harga ikan segar, beras, daging ayam ras, minyak goreng, cabai rawit, sigaret kretek mesin (SKM), dan cabai merah,” ujar Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menjadi penyumbang inflasi dengan andil sebesar 0,70 persen dan tingkat inflasi mencapai 10,35 persen. Kenaikan pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga emas perhiasan.

Menurut data BPS, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan pada Mei 2026. Inflasi tertinggi tercatat di Provinsi Papua Barat sebesar 5,94 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Provinsi Lampung sebesar 1,94 persen.

BPS juga mencatat sebanyak 17 provinsi mengalami tingkat inflasi tahunan yang berada di atas angka inflasi nasional sebesar 3,08 persen.

Inflasi Bulanan Capai 0,28 Persen

Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,28 persen pada Mei 2026. Inflasi tersebut ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,12 persen dan tingkat inflasi 0,39 persen.

Menurut Pudji, sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga pada Mei 2026.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau antara lain cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras. Cabai merah memberikan andil inflasi terbesar sebesar 0,08 persen,” katanya.

BPS mencatat minyak goreng dan bawang merah masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen. Sementara tomat dan beras masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,03 persen dan 0,02 persen.

Selain kelompok pangan, kelompok transportasi juga turut memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen dengan tingkat inflasi mencapai 0,61 persen.

Kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara menjadi faktor utama pendorong inflasi pada kelompok transportasi. Kedua komoditas tersebut masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen.

Maluku Catat Inflasi Tertinggi, Gorontalo Deflasi Terdalam

Secara regional, BPS mencatat inflasi bulanan terjadi di 31 provinsi, sedangkan tujuh provinsi lainnya mengalami deflasi.

Provinsi Maluku menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,93 persen. Sebaliknya, Provinsi Gorontalo mencatat deflasi terdalam dengan angka 0,96 persen.

“Menurut wilayah, secara bulanan inflasi terjadi di 31 provinsi, sedangkan tujuh provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Maluku sebesar 0,93 persen, sementara deflasi terdalam terjadi di Provinsi Gorontalo sebesar 0,96 persen,” ujar Pudji.

BPS menilai perkembangan inflasi pada Mei 2026 masih dipengaruhi oleh pergerakan harga sejumlah komoditas pangan, energi, transportasi, serta kenaikan harga emas perhiasan yang terus menjadi salah satu faktor dominan dalam pembentukan inflasi nasional.