Krusial.com — PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), salah satu pemain nikel besar di Indonesia, berniat menggelar buyback saham sebanyak 1,8 miliar di harga rata-rata Rp944 dengan dana Rp1,7 triliun selama 17 Maret-16 Juni 2026. Ini akan menjadi amunisi saham MBMA untuk menguat ke target harga yang dipatok tinggi.
Berdasarkan riset UBS, aksi korporasi itu positif di saat pasar saham sedang volatile seperti saat ini. Buyback itu serata 11% dari rata-rata transaksi bulanan dalam tiga bulan terakhir.
“Kami melihat bisnis MBMA tidak terimbas dari risiko pasokan sulfur, karena memiliki banyak stok,” tulis UBS, dikutip Jumat (27/3/2026).
Faktor positif lainnya, demikian UBS, perseroan memiliki daya tawar harga yang kuat di pasar nickel pig iron (NPI). Perseroan juga berencana meningkatkan bahan baku (feedstock) dari tambang sendiri.
Laba Bersih dan Target Harga Tinggi
UBS memprediksi pendapatan dana laba bersih MBMA melejit menjadi US$ 2,5 miliar dan US$ 204 juta tahun 2026, dibandingkan tahun lalu US$ 1,3 miliar dan US$ 34 juta. Tren ini diprediksi terus berlanjut sampai tahun 2029.
Hitungan UBS, MBMA bisa meraup pendapatan US$4 miliar dan laba bersih US$ 834 juta tahun 2029. Perseroan kini menggarap bisnis nikel yang terintegrasi secara vertikal, mulai dari tambang hingga pengolahan nikel menjadi bahan baku stainless steel dan material baterai mobil listrik.
UBS menyematkan rekomendasi buy saham MBMA dengan target harga Rp1.040. Saat berita ini ditulis, saham MBMA turun 2,9% ke level Rp670.***
Tinggalkan Balasan