Krusial.com — Senior Analis Kredit Rating Indonesia (KRI) Gromy Purba mengatakan industri fintech lending di Indonesia tengah memasuki periode pengawasan ketat karena terdapat beberapa kasus gagal bayar yang mencuat ke publik.
Gromy menjelaskan kelemahan struktural dalam sektor tersebut menimbulkan kekhawatiran atas ketahanan jangka panjang dari model pembiayaan berbasis platform.
Sebab, pertumbuhan platform peer-to-peer (P2P) lending didorong oleh inovasi digital, kemudahan akses, dan perluasan basis peminjam. Namun, laju ekspansi ini tak seiring dengan perkembangan kerangka manajemen risiko yang memadai.
“Banyak platform fintech beroperasi dengan buffer modal yang minim dan standar penyaluran kredit yang lebih longgar. Penekanan pada kecepatan dan otomatisasi mengorbankan aspek pengawasan kualitas kredit,” papar Gromy dalam keterangannya, dikutip Sabtu (12/7/2025).
Ia menambahkan karakteristik ini membuat sektor fintech rentan terhadap guncangan makroekonomi atau tekanan kualitas peminjam. Terlebih, jika pertumbuhan volume pinjaman ini tidak dibarengi dengan penilaian kredit, pemantauan, dan mekanisme penagihan yang memadai.
Ia mencontohkan kasus gagal bayar di Investree dan Akseleran yang sempat menghebohkan publik mencerminkan adanya ketidakseimbangan antara ambisi pertumbuhan dan kemampuan pengendalian risiko operasional.
“Dalam kedua kasus tersebut, tantangan mencakup kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL), keterbatasan transparansi informasi peminjam, serta ketergantungan terhadap pendanaan institusional yang terkonsentrasi, yang semuanya berdampak pada tekanan likuiditas dan keterlambatan pembayaran kepada lender,” imbuhnya.
Kemudian, keterlambatan pengakuan atas memburuknya portofolio menambah semakin tergerusnya kepercayaan investor. Tindakan itu, katanya, menunjukkan keterbatasan sejumlah platform fintech dalam menangani stres portofolio mereka.
Khususnya, menurut Gromy, bila dibandingkan dengan lembaga keuangan mapan yang memiliki struktur permodalan lebih kuat dan dilindungi oleh kerangka regulasi yang lebih ketat.
Peristiwa ini diperkirakan akan mempercepat pergeseran perilaku pasar, dari pola growth-at-all-costs [pertumbuhan-dengan-semua-biaya] menuju strategi yang menekankan keberlanjutan dan tata kelola yang baik.
Investor institusional dan penyedia dana diperkirakan akan semakin selektif dengan preferensi terhadap platform yang memiliki analisis risiko kredit dan sistem penagihan yang kuat, praktik pelaporan yang transparan, pengendalian internal yang solid, serta rekam jejak pertumbuhan yang bertanggung jawab.
Di sisi lain, regulator juga mulai memperketat pengawasan. Langkah ini penting untuk memastikan stabilitas jangka panjang dan memulihkan kepercayaan terhadap sektor fintech.
“Platform yang mampu menunjukkan keseimbangan tersebut lebih berpeluang untuk mempertahankan kepercayaan pasar dan dukungan investor secara berkelanjutan,” pungkasnya.***
source: bloombergtechnoz
Tinggalkan Balasan