Krusial.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi Indonesia sebesar 5,42% YoY pada November 2022. Realisasi ini lebih rendah dari konsensus yang memperkirakan inflasi 5,5% YoY serta inflasi tahunan pada Oktober 2022 yang mencapai 5,71%.

Secara bulanan, Indonesia mencatat inflasi 0,09% MoM pada November 2022 (vs. deflasi 0,11% pada Oktober 2022). Meski kembali mencatat inflasi bulanan, realisasinya lebih rendah daripada konsensus ekonom yang memperkirakan inflasi 0,16% MoM.

Pada periode yang sama, inflasi inti di Indonesia mencapai 3,3% YoY, lebih rendah dibandingkan perkiraan konsensus yang memprediksi inflasi 3,4% YoY dan realisasi inflasi pada Oktober 2022 yang mencapai 3,31% YoY. Sejak awal tahun, Indonesia telah mengalami inflasi sebesar 4,82% YTD.

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga di sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Komponen transportasi mengalami inflasi terbesar hingga 15,45%, dengan andil sebesar 1,86%. Sementara itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 5,87% dengan andil 1,5%.

Satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, dengan penurunan sebesar 0,4%.

Key Takeaway
Dengan tingkat inflasi 4,82% YTD, BPS meyakini bahwa inflasi tahun penuh 2022 akan dapat berada di bawah 6%. Kendati demikian, tingkat inflasi tersebut masih berada di atas target Bank Indonesia di rentang level 2—4%.

Pada Rabu (30/11), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa pihaknya siap menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk mendukung nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sendiri telah terdepresiasi sebesar 9,4% YTD dan mendekati level terendahnya dalam 2 tahun terakhir.

Sebelumnya, Bank Indonesia memprediksi bahwa inflasi pada 2023 akan turun ke level 3,61%.