Krusial.com| Aceh Selatan – Gusmawi Mustafa, Camat Kluet Timur Kabupaten Aceh Selatan tak kehabisan gagasan untuk melestarikan budaya khas Suku Kluet Aceh.

Hal ini terlihat dari usahanya bersama tokoh-tokoh Kluet di Aceh Selatan dalam mempromosikan budaya khas di kabupaten tersebut.

Pria yang akrab disapa “Ogek Agus” ( panggilan abang dalam bahasa Suku Aneuk Jame) ini memanfaatkan berbagai sarana untuk memperkenalkan budaya Kluet kepada masyarakat Aceh dan nasional, seperti peci dengan motif seni Kluet, pakaian dan sarana publik lainnya serta perlombaan-perlombaan yang mengangkat tema budaya Kluet. Tak hanya ornamen atau motif, dirinya juga terus mempromosikan dan melestarikan bahasa Kluet agar dapat dipahami masyarakat Aceh Selatan.

Saat ini, Gusmawi Mustafa juga tengah menggagas teka-teki Silang Bahaso Keluwat, atau teka-teki silang dalam bahasa Kluet yang nantinya akan digunakan untuk bahan pelajaran muatan lokal siswa SD / MI dan SMP / MTsn serta secara umum.

” Rencananya akan ada hadiah menarik bagi mereka yang menjawab dengan benar, pertanyaannya dalam Bahasa Indonesia, jawabannya dalam Bahaso Keluwat (Kluet,” ucap Gusmawi Mustafa, Selasa (29/11/2022).

Menurutnya secara tehnis yang saat ini masih menjadi kendala bersama adalah menentukan bahasa Keluwat yang baku, sehingga menjadi alasan kenapa Teka Teki Silang Bahaso Keluwat ini, masih permulaan dan konsep awal.

” Masih banyak tahapan dan proses lainnya yang harus kita jalani, salah satunya melalui pembuatan Kamus Bahasa Keluwat secara final dan baku. Kita sedang proses, dialek bahasa Keluwat terus bisa berkembang sedangkan Bahaso Keluwat yang baku dan dibukukan menjadi sebuah harapan kita bersama,” ulasnya.

Menurutnya ide pembuatan Teka Teki Silang Bahaso Keluwat ini, adalah menjadi bagian terpenting dan menjadi upaya bersama dalam menumbuh kembangkan minat segala tingkatan usia dalam melestarikan Bahasa Keluwat. Selain itu, upaya ini juga diharapkan dapat menjadi ide dan penggalian, mencari informasi terkait banyak tulisan berbagai, peribahasa Keluwat, tutur kata serta adanya festival “Mekato”

” Selain itu, upaya lain adalah Pekan Bahaso Keluwat, dimana setiap penduduk (yang bertempat tinggal maupun pendatang) yang berada di wilayah Kluet, di hari tertentu wajib menggunakan Bahasa Keluwat,” tambahnya.

Selain itu, Gusmawi Mustafa juga merancang konsep dimana tersedianya penerjemahan setiap dokumen resmi termasuk informasi maupun pengumuman di tingkat Kecamatan dan Gampong ke dalam Bahasa Keluwat dan Bahasa Aceh serta Bahasa Aneuk Jamee.

“Ini menjadi sangat menarik dan kompleks karena di wilayah Kluet Raya, penduduknya juga banyak dari Etnis Aceh dan Aneuk Jamee,” imbuhnya.

Menurutnya muatan lokal terkait Bahasa Keluwat menjadi program yang penting dan tak terpisahkan ketika gerakan pelestarian Bahaso Keluwat ini menjadi cita-cita bersama, Lalu apakah semua ini bisa terwujud…?

Gusmawi optimis, dengan adanya komitmen bersama, harapan bersama dan kebutuhan masyarakat,sehingga yang perlu dilakukan adalah menjalankan tugas dan fungsi sesuai minat.

” Gerakan bersama ini akan makin mudah terlaksana ketika kita melihat dan menyadari adanya berbagai kesamaan visi, cita-cita, harapan, kita terus berproses, kita mulai dari sekarang dengan segala keterbatasan yang kita miliki,” tutupnya.

Sebagai informasi, Kabupaten Aceh Selatan didiami oleh tiga suku asli Aceh, diantaranya, suku Aceh, Aneuk Jame dan Kluet, ketiga suku ini mempunyai keberagaman, seperti bahasa dan budaya masing-masing, namun sejak dulu dapat hidup secara berdampingan dan menjadi simbol persatuan, kekuatan dan pembangunan di Kabupaten Aceh Selatan.