Krusial.com| Aceh Selatan – Bencana banjir yang melanda kawasan Trumon Aceh Selatan sejak 31 Oktober lalu hingga kini masih menyisakan dampak bagi para warga yang merupakan petani di kawasan Trumon Raya tersebut.

Gampong Cot Bayu Kecamatan Trumon Timur merupakan desa yang hingga saat ini masih terendam, walaupun sebagian pemukiman sudah tidak terendam banjir lagi, namun akses jalan dan perkebunan hingga kita masih terendam yang mengakibatkan desa tersebut terisolir.

Hal itu disampaikan, Keuchik Gampong Cot Bayu, Faisal saat dihubungi Krusial.com, Senin (21/11/2022) malam. Menurutnya, ratusan hektar lahan sawit milik masyarakat terancam gagal panen akibat terendam banjir yang tingginya mencapai dua meter.

” Bakal buah sawit yang terendam itu tidak akan dapat dipanen lagi karena sudah mengalami kerusakan dan pembusukan,” ucapnya.

Disamping itu, ia melanjutkan butuh waktu hingga satu tahun lebih agar ratusan hektar sawit itu dapat kembali berproduksi dengan normal. Tak hanya itu, petani cabai dan jagung juga mengalami dampak yang besar, sehingga hal ini akan mempengaruhi pada perekonomian masyarakat di sekitar Trumon.

” 500 hektar sawit yang memiliki ketinggian 1 hingga 2 meter mengalami gagal panen, begitu juga petani lainnya,” ucap Faisal.

Minta Pemerintah Serius Tangani Dalang Banjir Trumon

Menyikapi bencana banjir Trumon November 2022, Faisal meminta agar pemerintah lebih serius mencari pangkal yang menyebabkan banjir di kawasan Trumon itu. Sebab menurut Keuchik Gampong Cot Bayu ini, banjir yang terjadi di Trumon bukanlah semata-mata karena meluapnya sungai Trumon akibat tingginya intensitas hujan.

Namun lanjutnya banjir tersebut merupakan banjir kiriman akibat meluapnya Sungai Gelombang atau Lae Soraya. Menurutnya pangkal penyebab banjir tersebut adalah akibat meluapnya sungai gelombang, sehingga air melalui hutan-hutan terus memasuki kawasan pemukiman di Trumon.

” Penyebab inilah yang harus sama-sama kita carikan jalan keluarnya, sehingga banjir di Aceh Selatan dapat tertangani dengan baik,” ucapnya.

Ia melanjutkan, pada tahun 2020 hingga 2021 banjir di Trumon dapat terkendali setelah salah satu perusahaan yang ada di Trumon membuat tanggul, namun oleh Pemerintah Kota Subulussalam kembali membuka tanggul tersebut sehingga berdampak pada banjir yang parah di Trumon.

” Perlu adanya penanganan serius oleh pemerintah terkait kondisi sungai Gelombang sehingga tidak terjadi lagi banjir di Trumon,” ucapnya.

Faisal kembali mengeluhkan dampak banjir yang sangat merugikan petani di desanya, menurutnya kerugian besar yang dialami petani harus itu harus perhatikan pemerintah, sehingga ke depan petani dapat terus melakukan aktivitasnya walaupun sudah mengalami gagal panen.

” Dampak dan penyebab banjir ini harus benar-benar tertangani dengan baik,” tandasnya.